INKUBATOR BISNIS DAN TEKNOLOGI

SEBAGAI WAHANA PENGEMBANGAN USAHA KECIL

MEMASUKI ERA GLOBAL

 

Oleh:

 I Wayan Dipta [1]

 

ABSTARCT

 

                The role of business and technology incubator is very important to strengthen small businesses, especially new businesses or start-up businesses. As a new business, small business needs to be treated as an infant, incubated so that it can alive as a normal baby. Special treatment is usually given to the start-up businesses so that they can survive, grow, and finally become maturity. In this case the role of business and technology incubator only to keep and avoid start-up businesses from death.

                The existence of business and technology incubator has been recognized not only in developing countries such as in the Philippines, Thailand, Malaysia, and recently in Indonesia, but it  has also  been developed very well in developed countries like the United States of America, Canada, Japan, Chinese Taipei, and Italy. It is approximated that there are more that 1500 business and technology incubators in the world. In Indonesia, a lone, based on the data that we have (2000) there have been more than 32 incubators.

                Conceptually, incubators, which are usually operated with limited staffs and efficient management provide “7S” to their tenants. These 7S are space, shared, services, support, skill development, seed capital, and synergy. Although most of incubators in Indonesia know the above principles, however only few of them can provide such services. That is why most of incubators in Indonesia do not work and give benefit to their tenants. In order to strengthen the role of incubators in Indonesia, some efforts needs to develop so that incubators can give and provide beneficiaries to their tenants.

 

A.                 KONSEPSI INKUBATOR

 

Inkubator bisnis dan teknolgi – selanjutnya akan disebut inkubator saja – telah lama dikembangkan di beberapa negara maju. Di Amerika Serikat, misalnya, inkubator telah berkembang sejak awal tahun 1980-an. Di Indonesia sendiri, inkubator mulai dikembangkan sejak Departemen Koperasi ditingkatkan perannya yaitu membina pengusaha kecil pada tahun 1992. Ketika itu, pemerintah mengambil inisiatif untuk mengembangkan inkubator bekerjasama dengan perguruan tinggi. Walaupun dengan keterbatasan dana pada saat itu, namun inkubator telah mendapat sambutan yang sangat baik untuk terus dikembangkan.

Kehadiran inkubator menjadi sangat penting karena pada umumnya usaha kecil sangat rentan trhadap kebangkrutan terutama pada fase start-up. Sejumlah ahli menyatakan bahwa pada fase start-up usaha kecil diibaratkan sebagai bayi yang masih premature. Pada saat ini biasanya perlu perlakuan khusus, misalnya melalui inkubasi sehingga dapat hidup sebagaimana bayi yang lahir normal dan dapat terhindar dari risiko kematian. Sistem inkubasi inilah yang terbukti dapat diadopsi sebagai bagian dari strategi pembinaan usaha kecil di sejumlah negara.

Peranan inkubator dalam pengembangan usaha kecil juga telah mendapat respon dari para pakar atau ahli. Dukungan para ahli ini telah memacu pertumbuhan inkubator di banyak negara. Menurut Lalkaka (1996) diperkirakan sudah ada lebih dari 1500 inkubator di dunia. Sebagian besar diantaranya berada di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa serta lebih dari 250 inkubator berada di negara-negara yang sedang berkembang dan bekas negara-negara sosialis.

Secara konsepsi perana inkubator sangatlah penting bagi usaha kecil pemula. Menurut Hon. Peter Reith, MP (2000), bahwa inkubator dirancang untuk membantu usaha baru dan sedang berkembang sehingga mapan dan mampu meraih laba dengan menyediakan informasi, konsultasi, jasa-jasa, dan dukungan yang lain. Secara umum inkubator dikelola oleh sejumlah staf dengan manajemen yang sangat efisien dengan menyediakan layanan “7S”, yaitu: space, shared, services, support, skill development, seed capital, dan synergy. Space berarti  inkubator menyediakan tempat untuk mengembangkan usaha pada tahap awal. Shared ditujukan bahwa inkubator menyediakan fasilitas kantor yang bisa digunakan secara bersama, misalnya resepsionis, ruang konferensi, sistem telepon, faksimile, komputer, dan keamanan. Services meliputi konsultasi manajemen dan masalah pasar, aspek keuangan dan hukum, informasi perdagangan dan teknologi. Support  dalam artian inkubator membantu akses kepada riset, jaringan profesional, teknologi, internasional, dan investasi. Skill development  dapat dilakukan melalui latihan menyiapkan rencana bisnis, manajemen, dan kemampuan lainnya. Seed capital dapat dilakukan melalui dana bergulir internal atau dengan membantu akses usaha kecil pada sumber-sumber pendanaan atau lembaga keuangan yang ada. Synergy dimaksudkan kerjasama tenant atau persaingan antar tenant dan jejaring (network) dengan pihak universitas, lembaga riset, usaha swasta, profesional maupun dengan masyarakat internasional.

Dalam penjenisannya, inkubator dikategorikan tergantung dari sponsor yang mendukungnya. Paling sedikit ada 5 jenis inkubator yang selama ini menjadi acuan dalam pengembangan inkubator di beberapa negara. Pertama,  Regional development incubator,  fokus programnya untuk agribisnis, penerangan listrik, dan peningkatan ketrampilan pengrajin terutama untuk regional market. Kedua, Research, University, Technology-based business incubator, yang dasar pengembangannya pada riset dan berbasis di universitas, fokus programnya adalah menyediakan pelayanan untuk personil yang terlatih guna menjadi seorang entrepreneur  yang melakukan ekstrak teknologi untuk memenuhi pasar dan berbagai peluang yang tersedia. Ketiga, Public-private partnership, industrial development incubator,  yang umumnya hidup di lingkungan perkotaan atau industrial estate , dimana perusahaan besar dapat dilibatkan dalam pengembangan usaha kecil sebagai vendor untuk komponen dan pelayanannya. Keempat, Foreign sponsors, International Trade and Technology, fokus program inkubator ini biasanya untuk pengembangan kolaborasi internasional, teknologi dan finansial, memfasilitasi masuknya usaha kecil dan menengah asing ke dalam pasar lokal (domestek). Kelima, tipe inkubator lainnya, misalnya inkubator yang memfokuskan pada program pengembangan kelompok tertentu.

Adanya fasilitas seperti inilah diharapkan inkubator akan dapat mengatasi kesulitan yang dihadapinya dalam pengembangan usahanya. Dari pengamatan yang dilakukan oleh para pakar diketahui bahwa sekitar 65% dari usaha kecil yang ada di Amerika Serikat yang baru berdiri akan mengalami kebangkrutan  dan menutup usahanya setelah beroperasi selama 2-3 tahun. Ada beberapa faktor yang disinyalir penyebab ketidakmampuan usaha kecil meneruskan usahanya. Faktor-faktor tersebut antara lain: rendahnya kemampuan menyusun rencana bisnis (business plan), lemahnya dalam pengelolaan bisnis, keterbatasan permodalan, keterbatasan akses dan penguasaan teknologi dan informasi, serta keterbatasan dalam akses pasar.

Untuk mengatasi berbagai faktor yang menjadi penghambat bagi berkembangnya usaha kecil di Indonesia, sejak tahun 1992 pemerintah bekerjasama dengan the United Nation Development Program (UNDP) telah merintis proyek pengembangan inkubator. Pada mulanya berdiri inkubator di beberapa daerah antara lain di Surabaya, Solo, dan Serpong. Proyek ini telah memberikan motivasi dan berhasil disosialisasikan di beberapa perguruan tinggi. Sampai saat ini inkubator yang berkembang sebagian besar ada di perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Beberapa perguruan tinggi yang telah memiliki inkubator adalah IPB, IKOPIN, UNS, Universitas Atmajaya, Universitas Brawijaya, Universitas Udayana, ITS, Unhas, Universitas Jember, Unsud, Universitas Andalas, Universitas Negeri Makasar, dan belakangan telah tumbuh di beberapa perguruan tinggi lainnya serta inkubator swasta (milik perusahaan swasta). Walaupun telah tumbuh cukup banyak inkubator belakangan ini, namun kwalitasnya masih belum memadai sebagaimana diharapkan.

 

 

B.                 PERKEMBANGAN INKUBATOR DI INDONESIA

 

Sejak tahun 1992 sampai tahun 1999 di Indonesia telah berkembang sebanyak 29 inkubator. Sebagian besar dari inkubator tersebut berada di perguruan tinggi. Meskipun perkembangan inkubator cukup pesat, namun demikian masih banyak aparat yang belum memahami makna, cara kerja, dan operasi inkubator.

Kurang berkembangnya inkubator di Indonesia telah dikaji karena adanya beberapa faktor. Di samping karena usianya yang relatif baru dan masih pada taraf belajar (belum berpengalaman), beberapa faktor penentu bagi kurang berkembangnya inkubator di Indonesia, diantaranya: (a) keterbatasan dalam penyediaan fasilitas operasional yang berdampak pada rendahnya kemampuan menyerap in wall tenants, (b) kurangnya dukungan modal awal (seed capital) sehingga inkubator belum ditangani secara profesional dan banyak in wall tenants yang tidak bisa mendapatkan modal awal walaupun usahanya layak untuk dibiayai, (c) komitmen dan dukungan pemerintah relatif kurang dan tidak konsisten dalam mengembangkan inkubator.

Junaidi, dkk (1997) telah melakukan kajian pada beberapa inkubator yang ada di Indonesia. Kajian tersebut bukan saja mengungkap kinerja inkubator yang ada, tetapi juga mencoba memahami latar belakang pendirian inkubator tersebut. Dari kajian tersebut dapat dikelompokkan bahwa inkubator yang ada berdiri dilatarbelakangi oleh adanya visi dan misi yang sama dari setiap perguruan tinggi, yaitu adanya kepedulian untuk mengembangkan usaha kecil. Secara spesipik inkubator yang berkembang dapat dikategorikan atas:

1.                  Inkubator yang memfokuskan pada pengembangan usaha kecil di industri rumah tangga, hortikultura, kerajinan bulu binatang, dan peternakan ayam buras;

2.                  Inkubator yang memfokuskan pada pengembangan jaringan pasar bagi usaha kecil yang bergerak dalam computer software development;

3.                  Inkubator yang bergerak pada pengembangan usaha kecil yang hanya bergerak dalam usaha perkulitan;

4.                  Inkubator yang bergerak dalam pengembangan kewirausahaan bagi alumni melalui berbagai program latihan kewirausahaan dan pemagangan;

5.                  Inkubator yang memfokuskan pada pengembangan usaha kecil di wilayah sekitarnya  dalam rangka mengatasi pengangguran dan penanggulangan kemiskinan.

 

Dari sisi kinerja, inkubator-inkubator yang diamati belum banyak memberikan perbaikan pada usaha kecil yang diinkubasi baik secara in wall maupun out wall.    Hal ini nampaknya terjadi karena inkubator belum dikelola secara profesional sebagai mana layaknya pengembangan inkubator di beberapa negara maju. Inkubator yang ada masih dikelola secara amatiran dengan jumlah personil yang sangat terbatas dan kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam pengembangan inkubator. Pada sisi lain, layanan yang diberikan kepada para tenant masih gratis sehingga inkubator yang dikembangkan akan sulit bisa mandiri. Suatu inkubator yang baik harus dikelola secara profesional dan layanan yang diberikan harus betul-betul memberikan manfaat bagi pengembangan usaha kecil. Dengan demikian usaha kecil yang mendapat layanan akan bersedia memberikan kontribusi kepada inkubator sesuai dengan manfaat yang diperolehnya.

 

C.                 BERCERMIN DARI PENGALAMAN NEGARA MAJU

 

Untuk memberikan ilustrasi bagaimana sebaiknya inkubator dikembangkan berikut ini akan diberikan ilustrasi pengembangan inkubator di beberapa negara maju.

 

1.                  Australia

 

Pengalaman Australia dalam pengembangan inkubator telah dimulai sejak tahun  1980-an. Peran pemerintah sangat kuat dalam pengembangan inkubator di Australia. Dalam kaitan ini pemerintah menunjuk Menteri Tenaga Kerja, Hubungan Penempatan Kerja dan Usaha Kecil (Ministry for Employment, Workplace Relations and Small Business) untuk terus memantau dan mengevaluasi pengembangan inkubator. Guna membantu pengembangan inkubator ini pemerintah federal perlu secara kontinyu menyiapkan pendanaan sampai inkubator tersebut betul-betul mandiri. Di samping itu pemerintah juga memberikan rewards (penghargaan) bagi inkubator-inkubator yang berprestasi. Dana grant dari pemerintah biasanya maksimum sebesar A$ 500,000 sampai dengan 5 tahun yang diberikan kepada inkubator yang baru berdiri untuk pembangunan infrastruktur dan biaya pendirian. Sedangkan bagi inkubator yang sudah ada untuk pengembangan infrastrukturnya masih dapat diberikan bantuan maksimum sebesar A$ 100,000.

Sebagaimana layaknya inkubator dikembangkan, di Australia sendiri inkubator banyak dikembangkan di perguruan tinggi. Namun demikian, tidak jarang juga inkubator dimiliki oleh suatu perusahaan besar karena kepeduliannya dalam pengembangan usaha kecil. Sebagai ikatan diantara inkubator yang ada di Australia dan New Zealand sekarang sudah terbentuk suatu asosiasi inkubator yang diberi nama Australian and New Zealand Association of Business Incubators (ANZABI).

 

2.                  Taiwan

Sebagaimana pengembangan inkubator di Australia, pemerintah Taiwan juga sangat memberikan perhatian yang besar pada pengembangan inkubator guna membatu pebisnis pemula. Di Taiwan, inkubaor difokuskan pada pengembangan usaha kecil yang beorientasi pada penerapan teknologi canggih (high tech). Alasan pengembangan inkubator berorientasi pada penggunaan teknologi canggih adalah dalam rangka peningkatan nilai tambah produk yang dihasilkan UKM sehingga menjadi lebih kompetitif.

 Cikal bakal inkubator di Taiwan dirintis oleh Dr. Benjamin Yuan pada tahun 1992. Ketika itu dia menyarankan agar hasil-hasil penelitian ditransfer melalui lembaga yang saat ini dikenal dengan inkubator. Untuk mewujudkan hal tersebut pada tahun 1995 Dr. Benjamin Yuan ditunjuk oleh Ministry of Economic Affairs (MOEA) untuk menyusun rencana strategis pengembangan inkubator yang menjadi kebijakan pemerintah Taiwan. Dalam kaitan ini, untuk memanfaatkan sumberdaya yang dihasilkan akademika dan lembaga penelitian, seperti teknologi, fasilitas, laboraorium, gedung, manajemen, dan tenaga profesional, Lembaga Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah Taiwan (SMEA) mendirikan suatu yayasan untuk pengembangan inkubator.

Dengan adanya yayasan tersebut, maka pada tahun 1996 sebagai tahap awal telah berdiri 7 inkubator. Pada tahun 1998 (setelah 2 tahun) di Taiwan sudah berdiri 36 inkubator, baik milik perguruan tinggi, lembaga riset nirlaba, dan milik organisasi swasta. Pada tahun 2000 sudah berdiri 48 inkubator  dan 46 diantaranya mendapat subsidi pemerintah. Untuk tahun 2000 saja pemerintah Taiwan memberikan subsidi sebanyak NT$ 130 juta untuk mendukung 600 perusahaan kecil yang diinkubasi. Dan pada tahun 2001 ini diperkirakan akan disubsidi sebanyak 750 usaha kecil yang diinkubasi oleh 60 inkubator di seluruh Taiwan dengan nilai subsidi sebesar NT$ 300 juta.

Sebagai inkubator yang berorientasi teknologi, maka skup aktivitas inkubasinya meliputi: informasi dan elektronik, automatisasi mekanik, multimedia, mesin/bioteknologi, pengendalian lingkungan, mesin pesawat terbang, transportasi laut, dan lain-lain.

Untuk memberikan ilustrasi pengembangan inkubator di Taiwan, berikut ini diberikan salah satu skema pengembangan inkubator di universitas/perguruan tinggi.

 

 

University

Computer

Classrooms/

Labs

Knowledge

Professors

Students

Culture

Networking

Incubators

Start-ups

Successful Enterprise start-ups

Monetary Feedback

Other Feedback

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Sedangkan mekanismenya adalah sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


D.                UPAYA PENGEMBANGAN INKUBATOR

 

Mengkaji dari berbagai pengalaman di negara-negara maju tersebut di atas di dalam pengembangan inkubator, tampaknya masih banyak yang perlu dilakukan. Yang paling penting sekali adalah menumbuhkan komitmen di kalangan para pejabat pemerintah akan pentingnya inkubator bagi pengembangan usaha kecil, khususnya usaha kecil pemula. Tuntutan pengembangan inkubator ini semakin menjadi prioritas mengingat krisis yang melanda negara kita selama ini telah memperparah jumlah pengangguran. Salah satu upaya mengatasi pengangguran adalah penciptaan lapangan kerja melalui penciptaan usaha baru.

Dampak krisis moneter yang berlanjut menjadi krisis ekonomi dan belakangan telah juga menjelma menjadi krisis multi dimensional harus ditanggulangi bersama. Kalau tidak jumlah pengangguran akan terus semakin banyak dan akibatnya kerawanan sosial akan sulit diatasi. Sekali lagi, agar dunia usaha dapat bergerak kondisi sosial dan politik harus diredam. Keamanan perlu segera diatasi sehingga minat untuk mengembangkan usaha dapat ditumbuhkan.

Setelah iklim berusaha menjadi lebih kondusif, maka baik pemerintah, dunia usaha dan masyarakat harus ikut secara bersama untuk memberikan bantuan perkuatan bagi berkembangnya usaha. Salah satu diantaranya adalah memberikan fasilitasi bagi usaha baru melalui wadah inkubator. Memang di negara-negara maju inkubator berkembang karena adanya dorongan pihak pemerintah. Sejak awal berdirinya inkubator selalu dimotori oleh pihak pemerintah. Bahkan tidak jarang inkubator yang dikembangkan memperoleh subsidi dari pemerintah. Jadi dukungan pemerintah sebagai pemicu tumbuhnya inkubator sebagaimana pada tahun 1992 perlu dibangkitkan kembali. Tentu pemerintah harus lebih selektif dalam memberikan fasilitas subsidi ini. Dengan kata lain, inkubator yang diberikan subsidi, baik dari perguruan tinggi/universitas, lembaga riset, dan miliki swasta harus betul-betul didasarkan pada kualitas. Artinya hanya inkubator yang berkualitaslah yang pelu mendapatkan subsidi.

Guna mendorong tumbuhnya inkubator yang betul-betul memberikan manfaat bagi berkembangnya usaha kecil, maka peranan perguruan tinggi, lembaga riset, dan lembaga swasta yang memiliki inkubator harus memberikan perhatian yang cukup – atau kalau boleh disebut serius – terhadap inkubator yang dikembangkan. Harus dihindari tumbuhnya inkubator-inkubator yang tidak dikelola secara profesional.

 

 

E.                 PENUTUP

 

Peranan inkubator telah diakuai sebagai salah satu wahana dalam pengembangan usaha kecil, khususnya usaha kecil baru dan sekaligus untuk mengatasi pengangguran. Kehadiran inkubator sangatlah penting bagi para usaha kecil baru untuk menghindari dari kebangkrutan usahanya, karena ketidakmampuan dalam pengelola bisnis, keterbatasan modal, teknologi, dan kekurangmampuan akses pada pasar. Dalam kaitan ini peranan inkubator adalah menjadi penting karena melalui inkubator usaha kecil yang baru akan belajar menyusun rencana bisnis sehingga dapat berkembang menjadi usaha yang mandiri.

Guna mengembangkan inkubator, sebagaimana juga dilakukan di negara-negara maju, maka peranan pemerintah menjadi sangat penting. Peranan pemerintah bukan saja dalam penumbuhan iklim usaha yang kondusif bagi berkembangnya inkubator, tetapi juga dapat membantu memberikan bantuan subsidi kepada inkubator, terutama dalam penyediaan infrastruktur dan fasilitas yang memadai. Hal ini sangat tergantung dari kemampuan pemerintah itu sendiri.

Di samping peranan pemerintah, dukungan pihak swasta dan perguruan tinggi yang  berminat ikut berpartisipasi dalam pengembangan inkubator juga tidak kalah penting. Khususnya di kalangan universitas, pengembangan inkubator akan sangat strategis karena di sanalah pusat dari sumber ilmu  pengetahuan, teknologi, dan informasi yang sangat diperlukan bagi pengembangan usaha kecil.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.                  Akhmad Junaidi, dkk. 1997. Kinerja Inkubator Bisnis dan Teknologi (dalam Media Informasi, Nomor: 03 tahun 1998, Badan Penelitian dan Pengembangan Koperasi dan Pengusaha Kecil)

2.                  Benjamin Yuan. 2000. Current Situation and Development of Incubator in Chinese Taipei (dipresentasikan pada “2000 APEC SME and New Business Support Workshop”, Taiwan, September 11, 2000)

3.                  Dean, John. 1997. Business Networks and Strategic Alliances in Australia. Department of Industry, Science and Tourism, Australia

4.                  Hon. Peter Reith, MP. 2000. The Planning and Development of Small Business Incubator Proponents. Department of Employment, Workplace Relations and Small Business

5.                    The Central Agency of Statistics and State Ministry for Cooperatives and SMEs. 2000.  The Number of SMEs in Indonesia



[1] Asisten Deputi Urusan Penelitian Sumberdaya, Kantor Menteri Negara Urusan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah. Juga aktif sebagai pengajar tidak tetap di beberapa perguruan tinggi swasta di Jakarta