Globalisasi Ekonomi dan Ekspor
Usaha
Kecil dan Menengah Indonesia
Tulus Tambunan
LP3E-Kadin
abstraksi
Globalisasi dari sisi ekonomi adalah suatu
perubahan dunia yang bersifat mendasar atau struktural dan akan
berlangsung terus dalam Iaju yang semakin pesat sesuai dengan kemajuan
teknologi. Dalam era globalisasi peran transportasi dan komunikasi sangat
penting, yang dapat menyebabkan terjadinya penipisan batas-batas antar negara
ataupun antar daerah di suatu wilayah.
Era globalisasi membuka peluang sekaligus
tantangan bagi pengusaha
Kinerja ekspor UKM lebih kecil dibandingkan
dengan negara tetangga seperti malaysia, Filipina dan
UKM, baik dalam hal nilai ekspor maupun dalam hal divesifikasi produk. Ini
menunjukkan ekspor produk UKM Iebih terkonsentrasi pada produk tradisional yang
memiliki keunggulan komparatif seperti pakaian jadi, meubel.
Mengingat ketatnya persaingan yang dihadapi
produk ekspor Indonesia termasuk UKM, maka
Fenomena Globalisasi
Ekonomi
Tidak ada definisi yang
Jadi, proses globalisasi dari sisi ekonomi
adalah suatu perubahan di dalam perekonomian dunia, yang bersifat mendasar atau
struktural dan akan berlangsung terus dalam laju yang
semakin pesat, mengikuti kemajuan teknologi yang juga prosesnya semakin cepat.
Perkembangan ini telah meningkatkan kadar hubungan
saling ketergantungan dan juga mempertajam persaingan antar negara, tidak hanya
dalam perdagangan internasional tetapi juga dalam kegiatan investasi, finansial
dan produksi. Globalisasi ekonomi ditandai dengan semakin menipisnya
batas-batas kegiatan ekonomi atau pasar secara nasional atau regional, tetapi
semakin mengglobal menjadi “satu” proses yang melibatkan banyak negara. Dalam
tingkat globalisasi yang optimal arus produk dan faktor-faktor produksi lintas
negara atau regional akan selancar lintas
Semakin menipisnya batas-batas kegiatan
ekonomi secara nasional maupun regional disebabkan oleh banyak hal, diantaranya
menurut Halwani (2002) adalah komunikasi dan transportasi yang semakin canggih
dan murah, lalu lintas devisa yang semakin bebas, ekonomi negara yang semakin
terbuka, penggunaan secara penuh keunggulan komparatif dan keunggulan
kompetitif tiap-tiap negara, metode produksi dan perakitan dengan organisasi
manajemen yang semakin efisien, dan
semakin pesatnya perkembangan perusahaan multinasional di hampir seantero
dunia. Selain itu, penyebab-penyebab lainnya adalah semakin banyaknya industri
yang bersifat footloose akibat kemajuan teknologi (yang mengurangi
pemakaian sumber daya alam), semakin tingginya pendapatan rata-rata per kapita, semakin majunya
tingkat pendidikan mayarakat dunia, ilmu pengetahuan dan teknologi di semua
bidang, dan semakin banyaknya jumlah penduduk dunia.
Dampak dari
Globalisasi
Dampak nyata dari globalisasi terhadap perekonomian
Sudah cukup banyak studi yang melakukan
simulasi-simulasi mengenai dampak dari liberalisasi perdagangan terhadap
negara-negara yang terlibat, misalnya terhadap perubahan output dan ekspor.
Diantaranya dari UNCTAD (1999) yang hasil simulasinya terhadap sejumlah
negara-negara Asia termasuk Indonesia sebagai sampel penelitian, menunjukan
bahwa perdagangan terhadap pertumbuhan ekspor Indonesia adalah yang paling
kecil setelah Turkey (Tabel 1). Walaupun, studi ini tidak terlalu spesifik
mengenai dampak terhadap ekspor secara sektoral, hasilnya memberikan suatu
indikasi bahwa Indonesia mempunyai banyak masalah, baik dari sisi suplai
(seperti keterbatasan kapasitas produksi dan infrastruktur) maupun sisi
permintaan (seperti kualitas) dibandingkan negara-negara lain sehingga
Indonesia tidak (belum) bisa mengoptimalisasikan keuntungan dari liberalisasi
perdagangan dunia (WTO) atau regional (AFTA atau APEC).
Tabel
1 Pertumbuhan Ekpor Setelah Liberalisasi Perdagangan Luar Negeri (PLN) di
|
Negara |
Tahun dari liberalisasi PLN |
Dua Tahun Pertama setelah
liberalisasi PLN |
Sepuluh Tahun Berikutnya Setelah Liberalisasi
PLN |
|
Filipina |
1986 1988 1986 1986 1989 |
2 18 15 31 5 |
13 18 15 17 11 |
Sumber: UNCTAD (1999)
Studi lainnya adalah dari Feridhanusetyawan dan
Pangestu yang mengevaluasi bentuk-bentuk liberalisasi perdagangan yang berbeda
yang dilakukan oleh
Di sektor pertanian, output dari
padi/beras dan komoditi pertanian non-biji-bijian diperkirakan turun sebesar 0,9% (padi/beras, skenario 1) ke 3,3% (non-biji-bijian,
skenario 2b). Di sisi lain, dengan memasukkan pertanian di
dalam AFTA,
Tabel
5 Dampak dari
Bentuk-Bentuk Liberalisasi Perdagangan terhadap Output Indonesia (% Perubahan)*
|
Komoditas |
Hanya putaran Uruguay (UR) |
UR + |
||||
|
Unilateral Oleh Indonesia Skenario
I |
AFTA |
APEC |
||||
|
TP** Sk.2a |
DP** Sk.2b |
TP Sk.3a |
DP Sk.3b |
|||
|
Beras Biji-bijian Bukanbijibijian Hewan Kehutanan Perikanan Pertambangan Makanan Tekstil
& pakaian jadi Olahan
lainnya Minyak,
batu bara & kimia Jasa-jasa |
-1,5 -0,9 -2,5 0,6 -7,2 -5,0 -18,8 -1,51 117,6 -8,8 -2,1 0,1 |
-0,9 0,9 -2,7 1,0 -6,8 -4,6 -17,9 -1,0 106,7 -8,5 -1,0 0,2 |
-1,5 -0,9 -2,5 0,6 -7,4 -2,1 -19,1 -1,5 117,8 -9,0 -2,2 0,1 |
-1,8 27,9 -3,3 1,0 -7,6 -2,3 -19,2 -1,9 117,0 -9,3 -2,4 0,0 |
-1,0 -0,4 -2,1 0,8 -7,2 -4,0 -16,1 -1,0 100,3 -9,2 -0,8 0,2 |
-1,3 1,3 -2,1 0,9 -7,0 -3,9 -16,0 -1,3 99,7 -9,0 -0,8 0,2 |
Keterangan: *: hasil yang merefleksikan dampak dengan penghapusan the Multi Fibre Arrangement (MFA); **
TP = tanpa pertanian; DP = dengan pertanian. Sumber: Feridhanusetyawan dan
Pangestu (2003).
Tabel 6 Dampak dari Liberalisasi Perdagangan terhadap Ekspor Indonesia
(juta US$)*
|
Komoditas |
Hanya putaran Uruguay (UR) |
UR + |
||||
|
Unilateral Oleh Indonesia |
AFTA |
APEC |
||||
|
TP** |
DP** |
TP |
DP |
|||
|
Beras Biji-bijian Bukanbijibijian Hewan Kehutanan Perikanan Pertambangan Makanan Tekstil
& pakaian jadi Olahan
lainnya Minyak,
batu bara & kimia Jasa-jasa Perubahan total dalam ekspor (juta US$) Perubahan saham dari ekspor total (%) Perubahan dalam neraca perdagangan (juta |
0 4 703 27 -2 -162 -2.636 -106 14.108 1.601 318 -174 13.682 36,7 434,5 |
0 3 678 23 -2 -167 -2.669 -136 12.817 841 93 -209 11.272 30,2 427,7 |
0 4 697 27 -2 -58 -2.280 -98 14.138 1.557 307 -181 13.711 36,8 447,9 |
0 271 642 47 -2 -61 -2.691 -143 14.066 1.512 287 -186 13.743 36,9 517,8 |
0 4 703 26 1 -144 -2.404 -147 12.216 698 136 -159 10.930 29,3 433,2 |
0 4 738 26 2 -137 -2.393 -178 12.192 725 140 -157 10.963 29,4 453,5 |
Keterangan: *: hasil yang merefleksikan dampak dengan penghapusan the Multi Fibre Arrangement (MFA); **
TP = tanpa pertanian; DP = dengan pertanian. Sumber: Feridhanusetyawan dan
Pangestu (2003).
Simulasi lainnya dengan
memakai teknik CGE adalah dari Gilbert dkk (1999). Yang menggunakan 3 skenario
yakni liberalisasi most-favoured-nation (MFN) tanpa keharusan timbal
balik (non-diskriminasi non-kondisional) (A), preferential APEC free trade
area (B), dan liberalisasi MFN dengan keharusan timbal balik
(non-diskriminasi kondisional) (C), mereka. memprediksi dampak dari
liberalisasi perdagangan dunia terhadap beberapa subsektor pertanian,
diantaranya subsektor makanan (Tabel 4). Dapat dilihat bahwa untuk semua
skenario tersebut, liberalisasi perdagangan makanan tidak menguntungkan
Indonesia, berbeda dengan yang diperkirakan dan dialami oleh tiga negara ASEAN
lainnya yakni Malaysia, Filipina dan Thailand.
|
Wilayah/Negara |
A |
B |
C |
|||
|
USS |
% |
US$ |
% |
US$ |
% |
|
|
Australia Selandia
Baru Jepang Korea
Selatan Indonesia Malaysia Filipina Thailand RRC Kanada AS Meksiko Negara
APEC lainnya Eropa Sisa
dari dunia Negara
Berkembang APEC Negara Maju APEC Total APEC Dunia |
3,91 1,60 34,02 -1,42 -0,40 3,85 1,66 6,66 7,46 1,09 7,81 0,60 4,44 -11,53 9,68 24,27 47,01 71,28 69,43 |
0,91 2,29 0,57 -0,23 -0,12 2,80 1,84 2,09 0,61 0,17 0,10 0,16 0,70 -0,12 0,17 0,78 0,30 0,38 0,20 |
6,00 3,82 22,39 -2,24 -0,38 2,41 1,22 6,61 -0,90 0,86 11,64 0,45 3,72 -8,51 4,21 13,13 42,47 55,60 51,30 |
1,39 5,48 0,38 -0,37 -0,11 1,75 1,35 2,08 -0,07 0,13 0,14 0,12 0,59 -0,09 0,07 0,42 0,27 0,29 0,15 |
6,35 5,89 29,72 -1,83 -0,35 8,69 1,47 9,67 6,89 1,66 25,80 0,40 18,23 16,47 5,51 45,00 67,59 112,59 134,57 |
1,47 8,44 0,50 -0,30 -0,10 6,33 1,63 3,04 0,56 0,26 0,32 0,10 2,89 0,17 0,10 1,44 0,43 0,59 0,39 |
Sumber: Gilbert dkk
(1999).
Kinerja Ekspor UKM
Hingga saat ini industri kecil dan
menengah atau usaha kecil menengah (UKM) Indonesia masih lemah dalam ekspor,
terutama dibandingkan dengan UKM di negara-negara Asia lainnya seperti
Malaysia, Thailand, Singapura dan Korea Selatan; tidak hanya dilihat dari
pangsa ekspor rata-rata per tahun, tetapi juga dalam diversifikasi produk dan
kandungan teknologi dari produk-produknya. Data perdagangan luar negeri
Indonesia menunjukkan bahwa selama ini nilai ekspor dari (UKM) sangat kecil
jika dibandingkan dengan nilai ekspor total dari non-migas atau nilai ekspor
total dari sektor industri manufaktur, walaupun pertumbuhannya selama dekade
80-an hingga 90-an menunjukkan suatu tren yang positif. Seperti yang dapat
dilihat di Gambar 1, selama periode 1993-1997, nilai ekspor dari (UKM)
mengalami pertumbuhan
rata-rata per tahun sekitar 8% . Suatu kenaikan yang signifikan
terjadi antara tahun 1997-1998, tepatnya pada saat krisis ekonomi mencapai
titik terburuknya, yakni dari US$2,5 miliar ke US$3,7
miliar, atau suatu kenaikan lebih dari 140%. Sedangkan, dalam periode yang sama, nilai ekspor total dari non-migas mengalami suatu
penurunan, yang merefleksikan terjadinya kontraksi dalam produksi dan ekspor
dari kelompok industri/usaha skala besar karena banyak dari mereka mengalami
kesulitan finansial semasa krisis.
Tingkat diversifikasi ekspor dari (UKM) juga rendah,
terkonsentrasi hanya pada sejumlah produk saja dan hanya melayani beberapa
pasar saja. Tingkat diversifikasi
produksi yang relatif rendah ini memberi kesan bahwa (UKM) hanya
berspesialisasi pada produk-produk tradisional yang memiliki keunggulan
komparatif seperti pakaian jadi dan beberapa produk tekstil lainnya (TPT),
barang-barang jadi dari kulit seperti alas kaki, dan dari kayu, termasuk
meubel. Dengan memakai data dari BPS,
Struktur ekspor dari usaha kecil (
Thee (1993) berpendapat bahwa, dilihat dari sisi teknologi dan
penyesuaian terhadap kebutuhan pasar, pertumbuhan ekspor dari UKM selama ini
dapat tercapai karena kemampuan para pengusaha kecil dan menengah dalam
menemukan celah-celah pasar yang masih ada lowongan dan menyesuaikan biaya
produksi dan kualitas terhadap permintaan pasar. Sementara
itu,
Gambar 1. Kinerja Ekspor dar UKM. 1993 – 1998 (US$
miliar)
50
40
Total Nilai ekspor ( non-migas)
30
20
10
Nilai
ekspor dari UKM
0
1993 1994 1995 1996
1997 1998
Sumber
urata (2000) and BPS
diragukan
merefleksikan suatu peningkatan saham yang pesat dari output UKM yang dieskpor,
yang kebanyakan secara tidak langsung lewat sistem subcontracting dengan perantara-perantara
komersial seperti perusahaan eksportir atau perdagangan.
Di dalam kelompok APEC,
Indonesia dan Chile adalah dua negara anggota di mana peran UKM-nya di dalam
ekspor paling kecil. Paling tidak ini menurut data yang ada dari Sekretariat
APEC, walaupun tetap ada keraguan mengenai kebenaran dari data tersebut dan
adanya masalah dalam membandingkan data antarnegara anggota karena perbedaan
dalam misalnya pengumpulan data kotor dan penghitungan data akhir. Dari semua negara
anggota, diperkirakan rata-rata IKM menyumbang 30% terhadap nilai ekspor total.
Indonesia sendiri, sumbangan UKM-nya terhadap ekspor total Indonesia pada tahun
1996 hanya 5% dan tahun 2000 4%. Australia dan Cina adalah dua negara anggota
yang kontribusi ekspor dari UKM-nya sangat besar (Tabel 6).
Gambar 2 Komposisi dari ekspor manufaktur oleh
IKM tahun 1999 (%)
|
|
|
|
|
Wood
products |
|
0 5 10 15 20 25 30
Sumber: Berry dkk. (2001)
Tabel 5 Kinerja Ekspor IK: 1999-2001 (juta
dollar AS)
|
Produk |
1998 |
2000 |
2001 |
|
Pengolahan Ikan Makanan ringan Pakaian Jadi TPT lainnya Sepatu/alas
kaki kulit Barang jadi
lainnya dari kulit Batik Meubel Barang jadi
dari rotan Arang
Kayu/Tempurung Anyaman Perhiasan Emas Perhiasan Perak Kerajinan dari
kayu Mainan anak-anak Sulaman Bordir |
52,17 4,18 813,07 80,52 32,04 121,98 243,17 26,32 56,99 23,48 59,91 123,11 49,07 122,26 1,60 1,68 |
53,69 5,35 977,06 113,10 33,45 142,98 322,33 32,77 65,54 29,88 71,80 73,70 33,57 120,51 128,45 1,83 |
50,34 5,97 919,47 106,86 30,11 167,5 322,43 35,2 67,52 20,49 76,96 92,76 18,42 123,39 89,06 4,46 |
Sumber: Depperindag
Tabel 6 Ekspor dari IKM sebagai suatu persentase
dari ekspor total di dalam kelompok APEC
|
Negara |
1990 |
1996 |
2000 |
Perkiraan Terbaik |
|
Australia Chile Cina Indonesia Jepang Korea Selatan Meksiko Singapura AS |
-* 6 50 - - 42 - 8 - 29 |
49 5 60 5 15 42 21 - - 30 |
51 4 - - - 40 - 8 24 - |
50 5 60 5 15 43 21 8 24 30 |
Keterangan: *= tidak ada
data
Sumber: Sek.APEC
Sebagai suatu perbandingan lebih rinci lagi dengan
salah satu negara anggota, misalnya Korea Selatan. Pangsa ekspor IKM Korea Selatan di dalam ekspor
total dari negara tersebut tidak saja tinggi tetapi diversifikasi produk
ekspornya juga jauh berbeda dengan IKM Indonesia. Ekspor dari
IKM Korea Selatan berorientasi pada produk-produk berteknologi menengah-tinggi.
Dari nilai ekspor totalnya tahun 2001, ekspor dari elektronika dan
produk-produk listrik mempunyai saham hampir 31%, disusul kemudian oleh tekstil
dan pakaian jadi 20,2%, mesin dan alat transportasi hampir 21%, produk-produk
dari karet dan kimia hampir 7%, dan produk-produk dari besi, baja dan logam
mencapai 5% lebih (Tabel 7).
Tabel 7
Ekspor dari IKM Korea Selatan Menurut Industri (2001) (juta dollar AS)
|
|
Primer |
Kimia |
Tekstil & Pakaian jadi |
Elektronik |
Mesin |
Baja, Besi, Logam |
|
Nilai |
2,172 |
4,436 |
12,913 |
19,797 |
13,393 |
3,322 |
|
Rasio (%) |
3,4 |
6,9 |
20,2 |
30,9 |
20,9 |
5,2 |
Sumber: SBC,
Kinerja dan Daya
Saing dari Beberapa Produk Ekspor Unggulan IKM Indonesia
Kinerja ekspor IKM Indonesia juga ditentukan oleh
perkembangan atau kondisi dari pasar yang dilayani: apakah IKM memproduksi dan
mengekspor barang-barang yang pasar luar negerinya sedang berkembang pesat
(permintaan dunia meningkat pesat) atau sedang mengalami stagnasi (permintaan
dunia menurun). Atau, produk-produk
Sudah ada beberapa studi mengenai perkembangan pasar
dunia untuk sejumlah komoditi yang juga merupakan produk-produk ekspor penting
dari IKM Indonesia. Salah satunya
dari Banerjee (2000, 2002) yang menganalisa perubahan struktur keunggulan
komparatif dari ekspor manufaktur dari 7 negara di Asia yakni Indonesia, Cina,
Malaysia, Taiwan, Korea Selatan, Singapura dan Thailand. Sebagai pendekatan
analisanya, ia menggunakan pangsa ekspor relatif atau
dikenal dengan indeks Revealed Comparative Advantage (RCA) dengan
formula sebagai berikut:
RCA = (Xik/Xim)/ (Xwk/Xwm) (1)
di mana
ekspor adalah nilai eskpor (dollar yang berlaku); i, w, dan m masing-masing
mewakili negara yang diteliti, jumlah dunia, dan jumlah barang-barang
manufaktur; dan k sama dengan 1 (padat tenaga kerja), 2 (padat modal) atau 3
(padat inovasi). RCA dapat didefinisikan sebagai berikut.
Jika ekspor dari suatu negara dari suatu jenis barang, sebagai suatu persentase
dari jumlah ekspor manufaktur dari negara tersebut, lebih tinggi daripada
pangsa dari barang yang sama di dalam jumlah ekspor
dunia, berarti negara tersebut memiliki keunggulan komparatif atas produksi dan
ekspor dari barang tersebut. Nilai 1 dianggap garis pemisah
antara keunggulan dan ketidakunggulan komparatif. Nilai
RCA dari suatu produk dari suatu negara di atas 1 berarti negara tersebut
mempunyai keunggulan komparatif di atas rata-rata dunia atas barang tersebut.
Sebaliknya, lebih kecil dari 1 berarti keunggulan
komparatifnya di bawah rata-rata dunia.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa barang-barang manufaktur buatan
Indonesia yang pangsa pasar dunianya meningkat selama periode yang diteliti
didominasi oleh produk-produk berteknologi sederhana seperti tekstil, kulit,
kayu dan karet; sedangkan Cina, sebagai suatu perbandingan, semakin unggul di
produk-produk seperti mesin-mesin elektronik, alat-alat komunikasi dan semi-konduktor
, atau Malaysia, Taiwan, Korea Selatan, Singapura dan Thailand antara
lain dalam komputer (Tabel 8). Terutama tekstil dan
produk-produk dari kayu dan kulit merupakan produk-produk penting dari UKM
Indonesia.
Tabel 8
Perubahan Struktur Keunggulan Komparatif dari Ekspor Manufaktur di 7 Negara
|
Negara |
Pangsa Pasar
meningkat |
Pangsa Pasar Menurun |
|
|
Produk-produk
dari karet, plastik, tekstil, kulit, kayu, dan gabus. |
Produk-produk
kimia |
|
Cina |
Alat-alat
komunikasi, semikonduktor, mesin listrik, produk-produk dari karet dan
plastik. |
Makanan,
minuman, produk-produk dari batu dan tanah liat |
|
Malaysia |
Komputer, dan produk-produk
dari karet dan plastik |
|
|
Taiwan |
Komputer, produk-produk
dari logam, mesin-mesin listrik |
Makanan,
minuman, logam bukan besi. |
|
Korea Selatan |
Kapal laut, komputer, mesin-mesin listrik |
Produk-produk
dari kayu dan gabus |
|
Singapura |
Komputer |
Produk-produk dari kimia, kayu
dan gabus |
|
Thailand |
Komputer,
alat-alat komunikasi, semi-konduktor, produk-produk dari karet dan plastik |
Logam bukan besi |
Sumber: Banerjee (2000, 2002).
Studi paling baru adalah dari
ICC=
(ekspor-import)/(ekspor+impor)
(2)
Secara implisit indeks ini
mempertimbangkan sisi permintaan dan sisi penawaran sejak (ekspor – impor)
identik dengan suplai domestik – permintaan domestik, atau sesuai teori
perdagangan internasional yakni teori vent for surplus, ekspor dari
suatu barang terjadi apabila ada kelebihan atas barang tersebut di pasar
domestik. Sebenarnya, menurut Hiratsuka, dengan mengobservasi indeks ini
sepanjang waktu, menurut komoditi atau industry, kita dapat membahas
kesenjangan permintaan dan penawaran di pasar domestik dan sekaligus mengukur
derajat dari daya saing dari komoditi atau industri bersangkutan.
Nilai indeks ICC adalah antara
–1 dan 1. Jika indeks ini menunjukkan suatu nilai di bawah nol, industri atau
komoditi bersangkutan mempunyai tingkat daya saing yang rendah dan suplai
domestik lebih kecil daripada permintaan domestik. Sebaliknya, jika nilainya
positif, berarti industri atau komoditi tersebut mempunyai daya saing yang
kuat. Kalau indeksnya naik berarti daya saing naik, dan sebaliknya.
Dengan memakai pendekatan
analisa ini, Hiratsuka melakukan penelitian terhadap posisi daya saing dari
sejumlah negara di Asia menurut kelompok komoditi dan industri. Posisi daya
saing dibagi dalam lima (5) tahap sesuai teori siklus produk, yakni sebagai
berikut:
1) “Tahap pengenalan” ketika suatu industri (forerunner) di
suatu negara (sebut A) mengekspor produk-produk baru dan industri pendatang
belakangan (latercomer) di negara B impor produk-produk tersebut. Dalam tahap pertama ini,
nilai indeks ICC dari industri latercomer adalah –1.
2) “Tahap substitusi impor”: nilai indeks ICC naik antara –1 dan 0.
Pada tahap ini, industri di negara B menunjukkan daya saing yang buruk sejak
tingkat produksinya tidak cukup tinggi untuk mencapai skala ekonominya
(optimal). Industri tersebut mengekspor produk-produk dengan kualitas tidak
bagus hingga tingkat tertentu, dan produksi dalam negeri masih lebih kecil
daripada permintaan dalam negeri. Dalam kata lain, untuk komoditi bersangkutan,
pada tahap ini negara B lebih banyak mengimpor daripada mengekspor.
3) “Tahap ekspor”: nilai indeks ICC naik antara 0 dan 1, dan industri
di negara B melakukan produksi dalam skala-skala yang besar dan meningkatkan
ekspor mereka dalam laju yang pesat, dan di pasar domestik untuk komoditi
tersebut, penawaran lebih besar daripada permintaan. Industri tersebut mengekspor
produk-produk dari “kelas bawah” dari kelompoknya dan impor produk-produk dari
“kelas atas” dari kelompok produk yang sama.dari industri di negara A
4) “Tahap
kedewasaan”: nilai indeks ICC menurun antara 1 dan 0,
dan produk bersangkutan sudah pada tahap standarisasi menyangkut teknologi yang
dikandungnya. Industri-industri pencipta dari produk bersangkutan di negara A
secara perlahan mengurangi ekspornya, karena secara bertahap gagal bersaing
dengan industri-industri pendatang baru dari negara B di pasar dunia, tetapi di
pasar domestik produksi masih lebih banyak daripada permintaan.
Industri-industri di negara A pada tahap ketiga ini mengekspor produk-produk
dari ‘kelas atas’ dari kelompoknya sedangkan industri-industri di negara B
mengekspor produk-produk dari ‘kelas bawah” dari kelompok produk yang sama.
5) Terakhir, “tahap
kembali mengimpor”: nilai indeks ICC menurun antara 0 dan –1. Pada tahap ini, industri di
negara A kalah bersaing di pasar domestiknya dengan
industri dari negara B, dan produksi dalam negeri lebih sedikit dari permintaan
dalam negeri.
Hasil
penelitiannya dengan pendekatan analisa di atas ditunjukkan di Tabel 9. Untuk kasus
Tabel
9 Ringkasan dari Posisi Daya Saing Menurut Kelompok Komoditi dari Sejumlah
Negara di Asia
|
|
Tahap 2 |
Tahap 3 |
Tahap 4 |
Tahap 5 |
|
Singapura |
11,16,18,19,20,21,22,23, 24,25,26,27,30,31 |
6,8,9,10,12,13,14,15, 28,29 |
7,17 |
1,2,3,4,5 |
|
|
10,11,12,13,14,16,17,18,19,20, 22,23,2 4,25,27,28,29,30 |
2,3,4,5,7,8,9,15,21, 26,31 |
6 |
1 |
|
|
11,12,18,19,20,23,24, 25,28,29,30 |
1,2,3,4,5,7,8,9,10,13,14,15, 16,17,21,22,26,27,31 |
6 |
|
|
Filipina |
10,11,12,13,14,16,19,20,21, 22,23,24,25,26,27,28,29,30 |
3,5,8,9,15,17, 18,31 |
6,7 |
1,2,4 |
|
|
10,11,12,16,17,18,19,20,22,23, 24,25,27,28,29,30 |
2,3,4,5,6,7,8,9,13,14, 15,21,26,31 |
|
1 |
|
|
7,8,9,10,11,13,15,18,20,21,22, 23,24,25,26,27,28,29,30 |
1,2,3,4,5,6,14,31 |
|
|
|
|
12,13,14,15,16,18,19,20,23, 24,25,26,27,28,29,30 |
3,4,5,6,7,8,9,10,11,17, 21,22,31 |
1,2 |
|
|
Jepang |
1,2 |
12,16,17,18,19,20,21,22,23,24,25, 26,27,28,29,30,31 |
7,8,10,11,13, 14,15 |
3,4,5,6,9 |
|
|
1,2,10,16,19,20,24,25,28,30,31 |
3,7,11,12,13,14,15,16,17,18, 21,22,23,26,27,29 |
4,5,6,9 |
8 |
|
|
1,20,23,25,28,29,30 |
3,5,11,12,13,14,15,17,18,21,26,27 |
4,6,7,8,9,10,19 |
2,16,22,24,31 |
Keterangan:
1)
komoditi-komiditi pertanian, 2) komoditi-komoditi pertanian yang diproses, 3)
pakaian jadi, 4) alas kaki dan barang-barang lainnya dari kulit,5) meubel, 6)
barang-barang manufaktur ringan lainnya, 7) alat-alat rumah tangga dari
listrik, 8) alat-alat komunikasi dan perkantoran, 9) komputer (PC) dan
alat-alat pendukung, 10) alat-alat
presisi, 11) pemprosesan logam, 12) pencetakan 13) bagian-bagian dari alat-alat
listrik untuk rumah tangga, 14) bagian-bagian dari alat-alat komunikasi
dan perkantoran, 15) komponen-komponen
elektronik, 16) bagian-bagian dari alat-alat presisi, 17) bagian-bagian dari
sepeda motor, 18) bagian-bagian dari otomobil, 19) bagian-bagian dari alat
mesin, 20) bagian-bagian dari mesin industri, 21) sepeda motor, 22) kendaraan niaga,
23) mobil penumpang, 24) alat-alat mesin, 25) , mesin-mesin industri, 26)
benang dan barang tenunan/kain, 27), tekstil serat sintetik, 28) produk-produk
petrokimia, 29) petrokimia dasar, 30) besi dan baja, 31) glas dan semen.
Sumber:
Selanjutnya, hasil penelitiannya juga menunjukkan industri-industri apa yang memiliki daya saing, yang mempunyai prospek baik,
dan apa yang tidak mempunyai daya saing lagi menurut negara-negara tersebut.
Seperti yang dapat dilihat di Tabel 10, bagi Indonesia, berdasarkan
perhitungannya, relatif cukup banyak industri yang mempunyai daya saing yang
sebagian juga merupakan produk-produk ekspor penting selama ini dari IKM
Indonesia. Tetapi, dibandingkan Cina, Vietnam, Malaysia dan Singapura, jumlah
industri di Indonesia yang menjanjikan relatif sedikit, dan yang tidak
mempunyai daya saing relatif banyak.
Tabel 10 Derajat dari Daya Saing Menurut Komuditi/Industri
|
|
Industri yang Kompetitif |
Industri yang menjanjikan |
Industri yang tidak kompetitif |
|
Singapura |
6,7,8,9,10,12,13,14,15,28,29 |
16,18,20,24,25,26,30 |
1,2,3,4,5,11,17,19,21,22,23,27,31 |
|
Malaysia |
2,3,4,5,6,7,8,9,15,21,26,31 |
10,11,12,13,14,16,18,20,28,29 |
1,17,19,22,23,24,25,27,30 |
|
Thailand |
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,13,14, 15,16,17,21,22,26,27,31 |
11,18,20,23,29 |
12,19,24,25,28,30 |
|
Filipina |
3,5,6,7,8,9,15,17,18,31 |
10,12,19 |
1,2,4,11,13,14,16,20,21,22,23,24, 25,26,27,28,29,30 |
|
Indonesia |
2,3,4,5,6,7,8,9,13,14,15,21,26,31 |
10,11,16,28,29,30 |
1,12,17,18,19,20,22,23,24,25,27 |
|
Vietnam |
1,2,3,4,5,6,14 |
7,8,10,11,13,15,20,21,27,18 |
9,22,23,24,25,26,28,29,30 |
|
China |
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,17,21,22,31 |
13,14,15,16,18,19,20,26,28,29,30 |
12,23,24,25,27 |
|
Jepang |
7,8,10,11,12,13,14,15,16,17,18,19,20,21, 22,23,24,25,26,27,28,29,30,31 |
|
1,2,3,4,5,6,9 |
|
Korea Selatan |
3,4,6,7,9,11,12,13,14,15,17,18,21,22,26,27,29 |
20,24,28,30,31 |
1,2,5,8,10,16,19,25 |
|
|
3,4,5,6,7,8,9,11,12,13,14,15,17,18,21,26,27 |
20,28,29,30 |
1,2,10,16,19,22,23,24,25,31 |
Keterangan: lihat Tabel 9.
Sumber: Hiratsuka (2003).
Salah satu negara pesaing berat
Indonesia saat ini yang bisa menjadi suatu ancaman serius bagi kelangsungan
ekspor non-migas Indonesia, dan IKM pada khususnya, adalah Cina.Perhitungan
dari ITC/WTO seperti yang dapat dilihat di Tabel 11 dapat memberikan suatu
gambaran mengenai perbedaan antara posisi relatif dari produk-produk Indonesia
dengan posisi relatif dari produk-produk Cina di pasar global untuk periode
1994-2001. Posisi
relatif tersebut diukur dengan sejumlah indikator, yakni tren pertumbuhan dari
ekspor (laju pertumbuhan rata-rata per tahun), pangsa di pasar dunia,
diversifikasi produksi dan pasar, konsentrasi produk dan pasar, tingkat
fleksibilitas dalam menyesuaikan dengan dinamika dari permintaan dunia, dan
perubahan absolut dari pangsa pasar dunia. Misalnya, untuk tekstil, laju
pertumbuhan ekspor
Indonesia rata-rata per tahun selama periode 1994-1998 sekitar 4% dan Indonesia
berada pada posisi ke 85 dari 103 negara yang mengekspor tekstil dan untuk
periode 1997-2001 sebesar 20%, berarti suatu kenaikan, dan posisinya menguat ke
posisi ke 27. Sebagai perbandingan, untuk periode 1997-2001
laju pertumbuhan ekspor tekstil Cina rata-rata per tahun lebih rendah yakni
sekitar 12% dan pada posisi ke 42. Tetapi, pangsa pasar dunia Cina untuk
tekstil pada periode 1997-2001 tercatat pada posisi ke 1, yakni sebesar 11,75%; sedangkan
Peringkat
Tabel 11
Indeks Kinerja Ekspor Indonesia (RI) versus Cina © untuk Beberapa Produk
|
|
I |
II |
III |
IV |
V |
VI |
VII |
VIII |
IX |
|||||||||
|
|
RI |
C |
RI |
C |
RI |
C |
RI |
C |
RI |
C |
RI |
C |
RI |
C |
RI |
C |
RI |
C |
|
A B C D E F G H I J K L M N |
4(107)* 2(91)* 19(32) 10(47) 14(47) 11(43) 4(85) 20(27) 45(11) 40(10) -5(58) 7(40) 26(24) 54(11) 88(4) 37(15) 29(27) 43(13) 69(8) 43(12) 34(12) 27(16) -1(106) 17(32) 18(51) 25(32) 2(100) 3(95) |
5(98) 6(57) 11(51) 11(44) 16(43) 19(24) 8(69) 12(42) 18(41) 13(51) 10(31) 7(39) 23(29) 12(44) 18(41) 25(20) 33(25) 34(19) 30(23) 23(23) 27(21) 25(19) 12(54) 7(68) 15(58) 13(60) 16(38) 14(36) |
1,86(17) 1,41(19) 0,94(23) 1,08(22) 2,78(10) 3,38(7) 1,60(16) 2,24(14) 0,44(30) 0,51(28) 2,92(10) 2,59(10) 0,47(36) 0,61(33) 0,14(39) 0,15(37) 0,45(25) 0,93(22) 0,23(33) 0,45(28) 0,11(41) 0,08(46) 1,50(18) 2,42(11) 0,66(24) 0,6826) 2,73(14) 2,46(11) |
3,23(9) 3,92(7) 2,57(14) 2,80(11) 1,70(16) 2,14(13) 8,71(3) 11,75(1) 2,07(13) 2,35(13) 26,17(1) 22,30(1) 3,77(10) 4,81(6) 1,32(17) 2,30(10) 4,81(7) 8,10(3) 3,10(13) 4,95(6) 0,92(16) 1,27(13) 17,14(1) 19,58(1) 7,13(5) 8,11(3) 1,65(21) 1,31(27) |
8(49) 8(56) 9(44) 9(58) 8(57) 12(36) 17(35) 36(19) 30(30) 43(21) 4(25) 4(52) 22(36) 34(30) 18(52) 23(47) 7(30) 13(4) 16(26) 27(15) 5(37) 11(14) 19(25) 47(5) 2(113) 18(43) 4(51) 4(47) |
39(1) 39(4) 21(18) 32(9) 18(17) 26(11) 46(8) 80(4) 109(2) 141(1) 8(3) 11(15) 75(5) 96(4) 26(38) 41(25) 13(3) 13(3) 37(2) 46(2) 8(16) 9(26) 29(3) 56(1) 30(31) 63(5) 10(8) 7(12) |
(34) (32) (30) (35) (40) (27) (25) (17) (28) (22) (18) (35) (35) (29) (45) (40) (27) (4) (26) (15) (35) (12) (22) (5) (67) (32) (27) (25) |
(1) (4) (12) (6) (12) (11) (8) (4) (1) (1) (2) (10) (5) (4) (34) (20) (3) (1) (2) (2) (9) (19) (3) (1) (19) (5) (5) (6) |
8(56) 7(61) 12(26) 17(10) 12(9) 11(18) 24(1) 27(1) 22(5) 20(7) 4(27) 5(38) 11(31) 12(23) 6(50) 5(55) 5(41) 7(34) 7(34) 7(42) 7(23) 12(14) 4(36) 5(29) 3(95) 7(44) 4(68) 4(79) |
7(62) 8(57) 6(58) 4(80) 6(56) 7(50) 6(51) 9(30) 14(22) 17(11) 5(26) 6(29) 11(26) 11(27) 11(22) 13(13) 7(29) 8(32) 8(27) 8(29) 12(10) 13(10) 6(23) 6(17) 5(60) 5(61) 8(26) 8(25) |
(22) (17) (25) (5) (9) (4) (4) (1) (6) (4) (11) (10) (21) (8) (35) (34) (28) (25) (23) (25) (29) (18) (14) (9) (44) (19) (50) (36) |
(17) (19) (31) (41) (20) (21) (19) (15) (14) (10) (5) (8) (11) (12) (18) (14) (19) (18) (16) (19) (7) (8) (8) (7) (29) (26) (9) (11) |
-0,01 -5,06 -0,02 -4,89 -0,05 -2,26 -0,03 9,10 0,11 -0,16 -0,08 -0,15 0,03 -0,17 0,31 7,67 -0,03 13,15 0,04 16,72 0,00 2,15 -0,07 10,55 0,04 1,92 -0,03 -5,79 |
-0,04 2,60 -0,01 3,12 0,08 9,06 -0,01 5,29 0,06 2,03 0,04 4,52 0,09 3,96 0,08 16,27 0,15 23,01 0,13 19,49 0,15 11,49 0,00 1,84 0,06 6,10 0,03 -5,56 |
(15) (107) (100) (55) (61) (65) (53) (26) (115) (112) (17) (43) (51) (98) (105) (52) (75) (52) (68) (48) (47) (77) (31) (97) (102) (53) (59) (15) |
(128) (108) (85) (108) (11) (72) (94) (9) (48) (120) (14) (36) (10) (47) (107) (68) (71) (51) (50) (33) (77) (58) (80) (17) (120) (108) (40) (107 |
- -0,1(163) - -0,1(134) - -0,03(106) - 0,2(3) - 0,03(10) - 0,02(9) - 0,05(5) - 0,02(14) - 0,09(9) - 0,05(11) - 0,002(32) - 0,19(4) - 0,02(15) - -0,17(137) |
- 0,1(3) - 0,01(6) - 0,16(3) - 0,67(1) - 0,07(5) - 0,86(1) - 0,2(1) - 0,26(1) - 0,95(1) - 0,55(1) - 0,11(5) - 0,41(1) - 0,42(1) - -0,1(131 |
Keterangan:
-a:
Bahan makanan tidak diolah (166); b: Bahan makanan diolah (143); c= Produk kayu
(114); d =Tekstil (103); e =Bahan kimia (121); f=Produk dari kulit (87);
g=Produk dasar (129);
h=Mesin non listrik (98); i= IT &
elektronik konsumen (69); y= Komponen elektronik (94); k= Alat angkutan (90); l
= Pakaian (112); m = Produk industri lainnya (122); n=Mineral (141).
-I
= tren dari ekspor (97-01) per tahun (%); II = pangsa pasar dunia (%); III =
diversifikasi produk (jumlah produk-produk serupa yang diekspor); IV=
konsentrasi produk;
V
= diversifikasi pasar (jumlah pasar yang dilayani); VI= konsentrasi pasar; VII
= perubahan relatif dari pangsa pasar dunia (% per tahun); VIII = kemampuan
menyesuaikan diri dengan
dinamika dari permintaan dunia; IX = perubahan absolut
dari pangsa pasar dunia (poin persentase per tahun).
-* = periode 1994-98 dan** = periode
1997-2001. Angka dalam kurung adalah peringkat diantara negara-negara lain yang
juga mengekspor produk yang sama. Jumlah negara untuk masing-masing produk
dapat dilihat di dalam kurung menurut
kategori produk di catatan kaki di atas.
Sumber:
ITC/WTO (COMTRADE dari UNSD).
Tabel 12 CI dan IP Indonesia (RI) dan Cina © untuk
Beberapa Produk: 2001*
|
Produk |
C1 |
Perubahan dalam pangsa pasar dunia |
||
|
RI |
C |
RI |
C |
|
|
Mineral Produk-produk kayu IT & elektronik konsumen Pakaian Bahan makanan tidak diolah Bahan-bahan kimia Tekstil Olahan lainnya Produk-produk dasar Makanan diolah Komponen listrik Produk-produk kulit Mesin non-listrik Alat angkutan |
12(14)** 7(6) 18(19) 7(5) 28(25) 34(32) 12(11) 22(22) 27(41) 23(23) 16(17) 15(13) 57(58) 40(41) |
50(51) 42(43) 4(10) 2(2) 44(20) 28(28) 11(12) 12(10) 33(16) 24(24) 22(23) 6(6) 24(29) 30(11) |
131(75) 2(45) 1(41) 1(29) 4(103) 5(95) 1(6) 1(93) 1(49) 6(14) 1(23) 1(13) 1(17) 5(22) |
131(75) 2(45) 1(41) 1(29) 4(103) 5(95) 1(6) 1(93) 1(49) 6(14) 1(23) 1(13) 1(17) 5(22) |
Keterangan: * = peringkat pertama
(satu) berarti kinerjanya paling bagus diantara 184 negara ; ** = 2000;
*** = CI
Sumber: lihat Tabel 11
Cara lainnya yang umum digunakan untuk
mengukur daya saing global dari suatu produk adalah menghitung Revealed
Comparative Advantage (RCA). Indeks ini membandingkan pangsa dari suatu
produk di dalam ekspor total suatu negara dengan pangsa dari produk yang sama
di ekspor dunia. Nilai di atas 1 (satu) menandakan bahwa negara bersangkutan
unggul atau berspesialisasi dalam produksi dan ekspor produk tersebut. Di Tabel
13 dapat dilihat perbandingan RCA Indonesia dengan Cina dan posisinya di pasar
dunia yang menunjukkan bahwa posisi Indonesia paling baik adalah untuk dua
jenis barang yakni produk-produk dari kayu dan tekstil, dan paling buruk adalah
untuk bahan-bahan makanan yang tidak diolah. Sedangkan posisi Cina paling
tinggi berdasarkan RCA adalah dari produk-produk manufaktur lainnya dan disusul
oleh tekstil dan produk-produk dari kulit.
Tabel 13 RCA Indonesia dan Cina: 1997-2001
|
Produk |
RI |
C |
|
Mineral Produk-produk kayu IT & elektronik konsumen Pakaian Bahan makanan tidak diolah Bahan-bahan kimia Tekstil Olahan lainnya Produk-produk dasar Makanan diolah Komponen listrik Produk-produk kulit Mesin non-listrik Alat angkutan |
2,43(49)* 3,43(19) 0,94(21) 2,45(46) 1,42(101) 0,52(74) 2,25(19) 0,69(52) 0,63(80) 1,11(79) 0,45(47) 2,50(31) 0,15(79) 0,08(79) |
0,27(109) 0,46(89) 1,72(13) 4,16(30) 0,83(121) 0,50(75) 2,48(12) 1,73(9) 1,03(54) 0,60(103) 1,05(22) 4,53(13) 0,49(40) 0,27(48) |
Keterangan: * =
peringkat.
Sumber: lihat Tabel 11
Langkah-Langkah
Strategis
Melihat kenyataan bahwa produk-produk ekspor Indonesia, dan IKM pada
khususnya menghadapi persaingan yang semakin berat, khususnya dari Cina, tidak
ada pilihan lain bagi IKM Indonesia selain harus segera mengambil sejumlah
langkah-langkah strategis, yang dapat dibagi menjadi langkah-langkah strategis
jangka pendek dan langkah-langkah strategis jangka panjang. Langkah-langkah
strategis jangka pendek terutama adalah:
1. Diversifikasi produk dan pasar.
2. Melakukan aliansi strategis dengan perusahaan-perusahaan besar
terutama yang memiliki jaringan bisnis global.
3. Memperbaiki kualitas dan merubah penampilan produk atau menambah
asesoris produk sesuai permintaan atau tren pasar yang sedang berkembang.
4. Mempertinggi efisiensi dan produktivitas.
5. Memperkuat
akses ke sumber-sumber informasi mengenai pasar, bahan baku, teknologi dan kebijakan-kebijakan
dan regulasi-regulasi menyangkut perdagangan
internasional, baik secara individual di negara tujuan maupun dalam konteks
perjanjian regional seperti AFTA dan Uni Eropa, maupun global yakni WTO.
6. Melakukan kegiatan promosi yang lebih agresif, namun efisien dan
efektif.
7. Menjalin kerjasama yang lebih baik dengan pemerintah dan
lembaga-lembaga pemerintah lainnya maupun swasta pendukung kegiatan ekspor,
universitas, asosiasi bisnis dan Kadin.
8. Melakukan penyesuaian dalam manajemen dan organisasi.
Sedangkan langkah-langkah
strategis jangka panjang adalah terutama dalam tiga hal:
1. Mengembangkan sumber daya manusia dan teknologi.
2. Melakukan inovasi dalam proses produksi dan produk berdasarkan
skenario permintaan dunia dalam jangka menengah dan panjang.
3. Meningkatkan kapasitas produksi.
4. Membangun jaringan bisnis global sendiri atau secara kelompok.