|
Skenario Pengembangan
Koperasi Dan UKM 2005 Oleh
: Ir. Pariaman Sinaga, MM
Dalam rangka pembangunan koperasi tahun 2005 perlu dibangun good governance yang dimulai oleh adanya synergi ketiga domain (unsur pemerintah, unsur dunia usaha dan organisasi masyarakat), maka dicoba dikaji kemungkinan pemberdayaan ekonomi rakyat dengan memperhatikan perubahan lingkungan dan kondisi internal daripada pelaku usaha KUKM tersebut. Sebagai organisasi bisnis, maka KUKM akan berinteraksi pada suasana yang dinamis dan untuk itu akan dapat menghasilkan berbagai alternatif kemungkinan postur yang dialami dalam bentuk skenario. Metoda scenario ini bukan berbicara tentang apa yang harus terjadi seperti yang dibuat oleh strategi planning, akan tetapi menggambarkan kemungkinan–kemungkinan yang akan terjadi pada KUKM pada suatu periode tertentu. Dengan mengetahui skenario tersebut akan dapat menggugah kesadaran para stokeholder dengan mengambil langkah–langkah antisipasi. Dengan mempertimbangkan berbagai aspek maka kajian skenario KUKM tahun 2005 dapat dikelompokan pada skenario terbaik yakni skenario banteng muda, skenario terburuk berupa skenario kodok dungu dan dua skenario tengah – tengah yakni skenario angsa tua dan skenario bebek liar. Dalam skenario banteng muda tercermin kesemarakan dunia usaha KUKM dengan omzet yang besar, jaringan usaha yang kuat dan penyerapan tenaga kerja yang tinggi. Sementara skenario kodok dungu tercermin dengan ketidak berdayaan menghadapi tantangan yang pada gilirannya KUKM tersisihkan dari aktifitas ekonomi dan larut dalam kehampaan dengan tanpa harapan. Pengalaman selama ini mengharapkan perusahaan-perusahaan konglomerat sebagai engnie of gorwth, ternyata terlihat rapuh dan tidak bisa lagi membantu penyerapan tenaga kerja, keadaan ini merupakan cambuk bagi para pengambil kebijakan dan didalam mengambil langkah–langkah menuju perwujudan skenario terbaik antara lain : peningkatan kemampuan aparatur dan koordinasi, penataan kelambagaan, pendalaman KUKM dan penyederhanaan perijinan dan kebijakan produksi yang efesien dan berorientasi pada standard mutu internasional. Dalam membangun masa depan bangsa, maka skenario KUKM ini perlu didiskusikan dan diseberluaskan kepada berbagai pihak baik dilingkungan pemerintah maupun lembaga atau perorangan dari luar instansi pemerintah maupun dari koperasi ( Dekopin)
P
E N D A H U L U A N Secara skematis ketiga domain dalam good governance tersebut pada skema berikut :
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Dari skema tersebut menjadi tugas para penyelenggara Negara adalah
bagaimana mewujudkan keseimbangan dari ketiga domain tersebut agar
senantiasa dapat mendorong perwujudan masyarakat adil makmur yang majemuk
dan penuh kedamaian.
Bintoro (2001) mengemukakan bahwa mewujudkan good governance dalam domain pemerintah bertujuan untuk mengembangkan fungsi yang mampu menciptakan lingkungan politik, ekonomi, hukum, sosial dan budaya yang kondusif. Domain dunia usaha atau swasta diarahkan dalam penciptaan lapangan kerja dan pendapatan; sedangkan domain masyarakat berperan aktif dalam aktivitas ekonomi, sosial dan politik.
Menurut Swarsono (1994), dari sudut ekonomi manajerial dan manajemen
strategi, bahwa berbicara tentang dunia usaha akan selalu dihadapkan pada
dua lingkungan yakni lingkungan eksternal (exogenius factors) dan
lingkungan internal (endogenius factors); demikian halnya Badan Usaha
Koperasi dan UKM Indonesia tidak bisa terlepas dari kondisi kedua factors
tersebut, seperti terlihat pada gambar 1 berikut : Dalam
GBHN 1999 – 2004, secara explisit disebutkan tentang perhatian terhadap
sistim ekonomi kerayatan dan pemberdayaan KUKM agar berdaya saing. Data
menunjukkan bahwa meskipun kontribusi KUKM masih relatif kecil terhadap GDP,
akan tetapi dalam penyerapan tenaga kerja cukup memberi harapan, seperti
dalam tabel ( 1 & 2 ) berikut :
Catatan
: Difinisi Skala
Usaha, Kecil : Omset dibawah 1 Millyar rupiah, Menengah : Omset diatas 1
Millyar tapi dibawah 50
Millyar rupiah, Besar: Omset lebih dari 50 Millyar rupiah Table
2. Data
Jumlah Koperasi di Indonesia 1999 – 2000
Sumber
: Biro
Perencanaan dan Data, Kantor Menegkop & UKM Sejalan
dengan thema diklat membangun peradaban dan kepemeritahan
yang baik, maka perhatian kepada ekonomi rakyat (dalam hal ini KUKM)
adalah sebagai salah satu upaya mewujudkan demokrasi ekonomi
yang sesuai dengan peradaban Pancasila
dan amanat Konstitusi yakni bumi dan air dan kekayaan didalamnya merupakan
pokok – pokok kemakmuran rakyat banyak, bukan kemakmuran orang – seorang
.Pergeseran paradigma pembangunan ekonomi dari
paradigma pertumbuhan kepada paradigma people centre development,
akan dapat terlaksana apabila diikuti oleh perubahan mental model dari para
pengambil kebijakan dan para stokeholder. Oleh karena itu kajian tentang
kebijakan yang lama dan kebijakan yang akan ditempuh, akan membantu
peningkatan kemampuan aparatur pemerintah dalam keberpihakan kepada
masyarakat banyak. Skenario
merupakan narasi yang menggambarkan apa yang mungkin terjadi, bukan apa yang
harus terjadi dan bukan pula ramalan atau rekayasa
perencanaan. Penyusunan
skenario planing KUKM di Indonesia dimaksudkan sebagai bahan masukkan bagi
pengambil kebijakan dan para staheholedrs yang terkait dalam bidang ekonomi
masyarakat. Dengan mengetahui alternatif kemungkinan terbaik atau terjelek
yang akan dialami oleh KUKM, maka dalam rentang waktu tersebut dapat diambil
langkah-langkah antisipasi yang dapat memperkuat skenario yang terbaik atau
mencegah skenario yang ekstrim jelek. DISKRIPSI SINGKAT KEADAAN EKONOMI, POLITIK DAN HUKUM
DI Potret buram
perekonomian tersebut semakin diperparah lagi oleh beban hutang yang besar
sekitar 100 millyar Mengingat Didin Damanhuri
(2000), menggambarkan bahwa keterpurukan ekonomi diatas, terkait pula dengan
kebijaksanaan dan sikap pemerintah yang berpihak kepada segelintir orang
“pengusaha-pengusaha karbitan” dengan berlindung dibawah paradigma
“trickle down effect”, akan tetapi jusru terjadi KKN yang menimbulkan
keserakahan dan penumpukan asset yang berbau marp up dan bahan baku yang
boros devisa; sehingga ketika krisis moneter terjadi, ketahanan ekonomi
Indonesia sangat rapuh yang berdampak luas bagi kegiatan ekonomi lainnya.
Oleh karena itu dengan iklim reformasi ada kesadaran untuk menumbuh
kembangkan keberpihakan pada ekonomi rakyat banyak akan tetapi sumber dana
dan sumber ekonomi lainnya masih tersendat-sendat baik dari dalam negeri
maupun sumber luar negeri. Dalam GBHN 1999 – 2001 ditegaskan politik
ekonomi kepada ekonomi kerakyatan dan pemberdayaan KUKM. Secara skematis
pola dasar keberpihakan kepada kaum kapital “segelintir orang” dalam
memanfaatkan sumber daya ekonomi yang terbatas, yang mengakibatkan
kesempatan yang sempit bagi KUKM dapat dikategorikan pada Architype succes
of the success full ( keberhasilan yang berhasil ) seperi struktur berikut :
GAMBAR 2. SUCCESS OF THE SUCCESSFUL Kelompok kapital akan lebih banyak lagi memanfaatkan sumber daya ekonomi yang dialokir oleh pengambil kebijakan sehingga pemanfaatan oleh kelompok ekonomi lemah makin tipis dan hasilnyapun semakin tidak nyata. Secara alami siklus ini berjalan terus hingga sumber daya ekonomi (sumber bersama) itu habis dan tidak bermanfaat. Tanpa koreksi kebijakan, ketimpangan akan terus berlangsung dan semakin melebar sejalan dengan perputaran siklus tersebut. Disisi lain potret
dibidang politik dan sosial, ternyata masih belum menunjukkan rasa saling
percaya, masyarakat merasakan adanya perilaku-perilaku politik yang tidak
santun, meskipun nuansa kebebasan mengeluarkan pendapat sudah dibuka.
Peradilan terhadap berbagai penyelewengan belum ditangani secara tuntas dan
tepat, sehingga gangguan keamanan dari berbagai pelosok masih dirasakan,
bahkan gangguan penyelewengan hukum masih terus ditutup-tutupi. Dalam nuansa
otonomi, terdapat semangat persatuan diantara masyarakat antar daerah makin
melemah bahkan ada upaya-upaya menuju disintegrasi. Secara umum dapat
dikatakan bahwa
Gambar 3. Rangkaian Menuju Multi Krisis Diolah : dari berbagai sumber Meskipun political will dari Pemerintah masih ada akan tetapi dalam dunia usaha KUKM senantiasa dikeluhkan beberapa kendala antara lain : (1) Kemampuan manajerial/SDM juga belum dapat dianggap tinggi. (2) Kemampuan dalam akses permodalan masih terbatas dan kemampuan pemupukan modal sendiri juga masih lemah dan (3) Penyerapan tehnologi produksi & tehnologi informasi pada umumnya masih rendah. RANGKAIAN ANALISIS SKENARIO PLANING KUKM A. Fokal Concern Dalam hal ini memfokuskan masa depan dunia usaha
KUKM Indonesia pada tahun 2005 mendatang. Pemilihan rentang waktu berkaitan
dengan batas waktu pemerintahan kabinet gotong royong dan batas waktu GBHN
1999–2000 serta telah
dimulainya pelaksanaan era perdagangan bebas kawasan Asean (AFTA). Secara
specifik dapat dituliskan Bagaimanakah
eksistensi KUKM B. Identifikasi Driving (Kekuatan-kekuatan Pendorong). Dalam pengembangan KUKM, maka beberapa variable yang dapat berpengaruh antara lain : 1. Kondisi Politik. Kondisi Politik yang memungkinkan terlaksananya kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi dengan mengacu pada peraturan perundangan yang jelas. Suasana demokrasi dan era transparancy serta sikap politik terhadap pemberantasan KKN dan keberpihakan kepada rakyat banyak adalah merupakan faktor-faktor yang secara tidak langsung mempengaruhi keberadaan KUKM Indonesia. Secara individu, pihak KUKM tidak dapat mempengaruhi kondisi politik yang berlaku dalam suatu negara, sehingga KUKM hanya dapat menerima dampak dari kondisi politik yang sedang berlangsung di suatu negara. 2.
Perkembangan Ekonomi Hal yang paling
mendasar adalah paradigma pembangunan ekonomi yang dianut (pertumbuhan, atau
pemerataan) tentunya menjadi faktor yang mempengaruhi keberadaan KUKM. Selain itu
iklim investasi, termasuk proces perizinan yang serba rumit apalagi dalam
era otonomi daerah ini, diperkirakan akan mempengaruhi pula semangat KUKM
didalam berkiprah dibidang pembangunan daerah. 3. Aspek Hukum dan Sosial Budaya. Kesesuaian antara perangkat hukum dalam mengantisipasi segala hal yang berkaitan dengan dunia usaha akan membantu memberikan kepastian berusaha bagi KUKM. Selain itu pandangan masyarakat terhadap wirausaha dan birokrat juga menggalang semangat KUKM misalnya penghargaan terhadap seseorang pemuda yang bergerak dalam KUKM adalah sama bahkan lebih tinggi dibandingkan jika yang bersangkutan menjadi aparat birokrasi pemerintahan. Selain itu etos kerja dari pada sekelompok masyarakat dalam melakukan kegiatan akan mendorong dunia KUKM semakin aktif bersaing. 4. Kelembagaan
Pembina dan Sikap Aparatur Negara. Selaku aparatur
negara, tentunya mempunyai peran dalam penyelenggaraan administrasi
pemerintahan yang berdampak bagi dunia usaha. Dalam hal ini sikap dan cara
pandang yang tidak diskriminatif dan peran pelayanan yang diutamakan
dibandingkan sikap “sok kuasa” (regulator), akan membantu perkembangan
KUKM. Selain itu keengganan untuk berkoordinasi horizontal dan vertikal
(pusat – daerah) dan tidak konsekwen dengan komitment dapat dianggap
sebagai faktor yang mempunyai dampak negatif bagi kelangsungan dunia usaha.
Egosektoral yang masih kental, akan menimbulkan kesan yang kurang baik dari
KUKM dan pihak masyarakat. 5.
Implementasi Era Globalisasi Dengan era globalisasi
berarti akan terjadi mobilitas sumber daya yang tinggi antar negara. Arus
informasi yang makin bebas dan arus sumber daya tenaga kerja, pemasaran
produk dan arus modal tidak bisa disekat-sekat lagi dan oleh karena itu
apabila negara Indonesia tidak mampu menangkap peluang tersebut, maka mau
tidak mau era globalisasi itu menjadi beban bagi rakyat Indonesia termasuk
dunia usaha KUKM. Kompetisi yang tajam diantara pelaku usaha, akan makin
terasa dan apabila dunia usaha Disisi lain, tatkala
dunia usaha 6.
Aspek Pasar, SDM, Tehnologi dan Permodalan. Selaku badan usaha,
tentunya memerlukan dukungan manajemen yang tanggap dan profesional, oleh
karena itu jika SDM pengelola KUKM belum mempunyai kemampuan kearah itu,
sudah barang tentu akan mempunyai laju pergerakan organisasi tersebut. Aspek
kewirausahaan sudah diakui mempunyai peran significant dalam menangkap
peluang-peluang KUKM. Tingkat tehnologi yang
diterapkan dalam proces produksi maupun informatika, akan membantu KUKM
mampu berkiprah dalam mutu dan kualitas produk serta mampu meningkatkan
eficiency physik. Bersamaan dengan hal
tersebut potensi keuangan internal merupakan faktor pendorong organisasi
KUKM agar dapat merealisir seluruh komitment yang ditetapkan. Dalam hal
ini kontinyuitas sumber pendapatan dan pengelolaan yang eficien
menjadi hal yang diperhatikan dalam perkembangan KUKM. Perlu diperjelas bahwa
keempat variable tersebut diatas pada hakekatnya variable yang mempengaruhi
tetapi sekaligus pula dapat dipengaruhi oleh masing-masing KUKM. Jika suatu
KUKM ingin memperoleh SDM lebih bermutu maka dapat saja merekrut
tenaga-tenaga ahli yang baru lagi. C.
HUBUNGAN ANTAR DRIVING FORCES Dari diskripsi masing-masing driving force teresbut diatas maka secara skematis dapat dituliskan hubungan interaksi antar driving forces sebagai berikut :
GAMBAR 4. HUBUNGAN ANTARA DRIVING FORCES Kestabilan politik, berkaitan erat dengan aspek keadaan social budaya masyarakat serta kondisi kelembagaandan sikap aparatur negara yang memungkinkan dapat bekerja dengan garis yang jelas. Berbarengan dengan kondisi sosial budaya masyarakat maka pelaksanaan supermasi hukum akan terwujud sehingga kepatuhan seluruh elemen bangsa dan infrastruktur politik menjadi meningkat. Komitment aparatur negara dan faktor kepastian hukum serta implementasi era globalisasi akan membantu kejernihan dalam penerapan kebijaksanaan dibidang ekonomi, yang senantiasa mau melihat aspek sosial budaya masyarakat. Apabila kelembagaan dan aparatur negara telah berfungsi dengan loyalitas yang tinggi, maka diharapkan dapat mengundang respons dari internal dunia usaha yang pada gilirannya dapat menangkap peluang kebijakan ekonomi yang ada. Lebih lanjut setelah
direnungkan secara mendalam maka berbagai driving force tersebut pada
dasarnya dapat dikelompokkan kedalam dua
yang paling kritis dan
penting yakni : a). Kebijakan
ekonomi dalam arti dapat mendorong terwujudnya ekonomi pasar dengan
membawa manfaat bagi kemakmuran rakyat banyak bukan orang seorang. Ketika
mekanisme pasar belum berjalan sempurna dan dalam nuansa ketidakpastian yang
tinggi, maka peranan pemerintah tetap diperlukan sebagai triger perbaikan
& perkuatan kemampuan pelaku usaha. Kebijakan
Pemerintah dibidang perekonomian dapat berupa iklim yang kondusif
bagi KUKM atau sebaliknya tidak menunjukkan iklim kondusif. b).
Respon dari kalangan dunia
usaha KUKM yang meliputi kecepatan dan ketepatan sebagai upaya
memanfaatkan peluang usaha yang ada. Respon yang lamban akan menurunkan
kemampuannya dalam persaingan yang pada gilirannya akan dapat menyebabkan
peluang usaha menjadi sia-sia. Kemampuan mengantisipasi segala perubahan
baik didalam lingkungan intern maupun peluang dari luar, tergantung pada
kualitas SDM pemilik/pengelola dunia usaha tersebut. Kualitas dimaksud lebih
terfokus pada potensi dan semangat kewirausahaan yang dimiliki.
Respon tersebut dapat dilakukan dengan cepat dan berdaya atau
sebaliknya lamban dan bersifat loyo. Kedua driving forces tersebut
digabungkan dalam suatu matrix yang menghasilkan empat quadran yang memuat
masing-masing kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi (disebut skenario).
E.
NARASI SKENARIO Dari matrik diatas
maka dapat dikategorikan skenario terbaik
yakni skenario Banteng Muda, skenario terburuk yakni skenario Kodok Dungu,
sedangkan skenario angsa tua dan bebek liar merupakan skenario yang tidak
menonjol. 1.
Skenario Kodok Dungu. Pada satu hari dilangsungkan suatu seminar dan
bedah buku tentang “Global Paradox oleh John Naisbit” dan “Indonesia
Beyond Soeharto oleh Donald Emerson” serta buku
“Transformasi Bangsa Menuju Masyarakat Madani”, yang dilaksanakan
di Kampus Institut Pengkajian Ekonomi Rakyat,
ternyata berakhir dengan kekisruhan. Beberapa mahasiswa dan kelompok
masyarakat maju ke mimbar tanpa prosedure yang ditetapkan oleh moderator,
mereka menyambar mikrofon dengan nada sumbang meneriakkan “para ilmuwan
dan para birokrat adalah pembual
dan peramal palsu”. Semua hadirin menjadi tersentak, akan tetapi dengan
tekun mendengar ocehan yang dilontarkan beberapa orang diantara mereka
dengan rekaman sebagai berikut : Dulu waktu reformasi diluncurkan tahun 1998,
mahasiswa dan masyarakat umum bersorak-sorai dengan dibarengi harapan
perbaikan kehidupan. Dalam perjalanannya gelombang besar ternyata tidak
terelakan. Dalam tempo 3 tahun saja sudah terdapat 3 Presiden, mulai dari
Prof. DR. B.J. Habibie, KH. Abdurrachman Wahid dan sejak Juli 2001 dipangku
oleh Ibu Megawati Sukarnoputri. Gonta ganti Presiden nampaknya tidak
otomatis membawa hembusan angin segar menuju perbaikan ekonomi rakyat.
Mereka, para kaum elit politik terfokus hanya pada kepentingan politik
partai dan kepentingan kelompoknya. Ketika kami menerima kunjungan petinggi
republik ini, secara spontan kami ajukan usulan perbaikan usaha kami; akan
tetapi dengan angkuhnya dia berkata “ah usulan ini tidak terlalu realistis
dan saya datang kedaerah ini bukan urusan usaha kalian, melainkan ada urusan
khusus pribadi saya” kata sang pejabat. Sekali tempo datang pula anggota
DPR pusat dan kami sambut dengan menagih janji waktu kampanye dulu yang
berkata “partai wong cilik, dan berfokus pada perbaikan kehidupan wong
cilik”. Sang anggota Dewan dengan enteng menjawab “saya ini masuk
anggota komisi yang tidak terkait dengan ekonomi masyarakat dan
urusan-urusan itu sebetulnya menjadi tanggung jawab executif”.
Kesimpulannya bahwa apa yang dituliskan John Naisbit bahwa usaha kecil pada
abad 21 dan reformasi ekonomi dalam bukunya Donald Emerson, dan Transformasi
Bangsa Menuju Masyarakat Madani, hanya impian belaka. Makin terasa bahwa
yang terjadi dewasa ini kegiatan mengusir orang miskin bukan kegiatan
pengurangan kemiskinan. Kapok
dan apatis masyarakat terhadap arogansi pemerintah & kaum elite politik,
nampaknya membuat semangat pengelola
KUKM menjadi
menurun. Dari zaman orde
baru mereka merasa belum punya
kemampuan yang memadai, ditambah
lagi semangat
yang menurun
pada era reformasi ini,
berarti betapa suramnya bagi Sumber Daya
Manusia Koperasi
Usaha Kecil
Menengah. Perlahan
- lahan daya juang
makin turun, bahkan bersifat masa bodoh terhadap organisasinya,
bagaikan kodok yang tidak peka terhadap perubahan suhu air; sehingga lama
– lama tak berdaya. Menjelang pemilu 2004, seperti biasa seolah-olah
ada tawaran bagi pemerintah yang berkuasa berupa kebijakan ekonomi bagi kaum
ekonomi lemah. Pak Atang dan Ibu Sobur yang biasa berdagang sayur mayur di
pasar pagi, tidak bergeming sedikitpun atas kampanye caleg tersebut. Hasil
pemilupun, nampaknya tidak menyenangkan, karena partisipasi masyarakat
justru makin menurun. Buat apa aku ikut menusuk partai, paling-paling
hasilnya tidak berdampak bagi kesejahteraan kami. Pada
suatu malam tersiar berita bahwa Pemerintah, masih terfokus pada
penyelesaian hutang-hutang di BPPN dan proces pinjaman dana pihak ketiga,
didalam systim perbankan. Aneh tapi nyata uang rakyat kecil (APBN) sebagian
besar dipakai untuk jaminan pihak ketiga & bunga obligasi sebesar 60-70
trilyun rupiah. Uang tersebut milik orang-orang kaya yang harus ditanggung
oleh uang rakyat dari APBN. Pada hal dana untuk pembinaan & perkuatan
KUKM dari APBN sangat minim hanya berkisar 800 millyar rupiah saja per
tahun. Bulan
April 2005, berita menghebohkan ketika sebuah radio swasta melaporkan bahwa
kerusuhan berulangkali terjadi di sebuah 2.
Skenario Banteng Muda. Rombongan turis datang
dan ingin berbelanja barang-barang khas Pada
malam hari, ada siaran televisi dari Menteri Investasi dan Pemda yang
sungguh-sungguh memberikan fasilitas, bukan hanya investor besar tetapi juga
bagi investor KUKM. Berita itu bersambut, sehingga Pak Agung dan Pak Yosep
duduk bersama Mr. Fred dari Swedia melakukan santap siang bersama. Mereka
baru saja melakukan penandatanganan kerjsama usaha dalam industri pengolahan
susu dan pengembangan serat alam. Dengan wajah berseri-seri Pak Agung dan
Pak Yos melaporkan rencana itu kepada rapat anggota khusus yang mendapat
sambutan positif, karena berarti akan membuka lapangan kerja baru dan
memberikan kepastian pasar bagi anggota koperasi . Dua tahun kemudian,
daerah lokasi KUKM tersebut menjadi terkenal, Pak Agung dan rekan-rekan
lainnya sudah sering mengadakan kunjungan kedaerah lain dan setiap bulan
tidak merasa kesulitan mengirim uang biaya anaknya yang sedang kuliah di
ibukota. Selain itu rombongan haji nampak meningkat dari anggota komisi dan
UKM desa Sumber Makmur kecamatan Suka Rukun tersebut Bulan
April 2005 Drs. Suprojo, Bupati dan salah satu Kabupaten di Jambi tiba di Pesta
demokrasi telah tiba, kampanye mulai digelar, Pak Agung dan Pak Yos, tak
diduga diajukan oleh masyarakat sebagai calon legislatif dari partai yang
berlambang banteng. Mereka menerima usulan tersebut, karena sejalan dengan
simbol kepala banteng dalam Pancasila mereka menghargai suara anggota
sebagai wujud demokrasi. Meskipun tidak pernah kampanye besar-besaran di
lapangan terbuka seperti yang lazim dilakukan oleh caleg lain partai, namun
Pak Agung & Pak Yosef mendapat suara terbanyak di daerah tersebut.
Pengabdian kepada KUKM sejak dari waktu yang lalu rupanya menjadi media
kampanye masa kini. Ketika
menjelang akhir tahun “Bank Wong Cilik” menyelenggarakan RUPS dan
setelah diperiksa ternyata para anggota KUKM merupakan pelanggam aktif dan
untuk itu mereka diperbolehkan menerima tambahan kredit, selain
deviden juga dibagikan. Sambil bernyanyi “Kemesraan ini janganlah
cepat berlalu”, mereka membentangkan spanduk yang berisi “ Bersatu kita jaya, bercerai kita
runtuh”. 3.
Skenario
Bebek Liar Sebagaimana bebek yang selalu ditandai oleh suara
yang mengeluh dan senantiasa dalam perjalanan harus diarahkan oleh gembala
agar dapat berjalan bersama. Pada suatu seminar sang Pengurus KUKM,
mempermasalahkan ketidak cairan dana yang mereka butuhkan, dan setelah
dichek proposal tertulis belum pernah dibuat. Debat kusir terjadi, karena
assumsi dibangun lembaga pembina rupanya tidak sesuai dengan kenyataan.
“Wah, kami kira anda-anda pengelola KUKM telah mampu membuat
rencana-rencana usaha yang profesional” ujar sang pejabat yang menangani
bantuan dana KUKM. Pagi hari Sabtu di desa pantai di daerah Jawa
Tengah terjadi transaksi penjualan ikan milik anggota KUD. Pak Sutio dan
kawan-kawan pada awalnya merasa gembira karena memperoleh pendapatan hasil
penjualan ikannya, akan tetapi setelah dibandingkan dengan pengeluarannya
ternyata belum memberikan keuntungan. Sementara itu Pak Mantri dan Pak Camat
merasa kaget dengan kedatangan Pak Sutio dan kawan-kawan
dengan harapan mohon petunjuk. “ Kami sibuk jadi tidak bisa terus
menerus mendampingi Saudara-saudara” ujar Pak Mantri yang mengaku sudah
pernah membantu proces penjualan ikan secara kolektif dengan melangsungkan
systim lelang. Pak Mantri memberikan petunjuk dengan bahasa-bahasa yang
ilmiah bagaikan di ruang kuliah dengan peserta para mahasiswa. Tehnologi
refrigrator, floor price dan titik keseimbangan merupakan kata-kata yang
didengar dari Pak Mantri dalam menjelaskan proces pengawetan dan proces
pelelangan ikan. “Aduh apa yang diajarkan Pak Mantri itu”, keluh Pak
Sutio kepada teman-temannya yang
juga belum memahami kerangka berfikir dari Pak Mantri. Barangkali Pak Mantri
lupa kalau kita-kita ini orang yang bukan lulusan sekolah tinggi, kata Pak
Ninuk menimpali keluhan Pak Sutio tadi, sambil berjalan mereka mendengar
radio dengan lantunan lagu “Janganlah
kau berkata benci…….”. 4.
Skenario Angsa
Tua “Maju terus pantang mundur”, syair lagu yang
selalu terucap dalam rapat-rapat organisasi KUKM pimpinan Pak Siallagan dan
Pak Rachmat. Bagaikan Angsa yang tajam penciumannya, tetapi tidak bisa
berbuat banyak, merupakan fenomena yang dialami oleh kelompoknya Pak
Siallagan dan Pak Rachmat. Para Pengurus KUKM, sudah mencium adanya peluang
ekspor tektil dan
langkah-langkah kearah itu telah dipersiapkan. Namun sore itu juga di media Dengan langkah lunglai Pak Rachmat menemui rekan-rekan anggota UKM dan bercerita tentang informasi yang baru diterima dan disimpulkan tidak mungkin melakukan ekspansi usaha. “Tidak apa – apa yang penting kami tak punya hutang”, kata mereka mengakhiri suatu pertemuan dengan aparat Pemda sambil meninggalkan beberapa pot bunga bonsai. Bonsai perlambang kondisi mereka “Hidup segan mati tak mau”, kesan pemerhatian.
LANGKAH-LANGKAH ANTISIPASI Tantangan kedepan bukan hanya pada usaha KUKM itu
sendiri, akan tetapi juga pada kesiapan aparatur dalam menganalisis
perkembangan sekaligus mengupayakan peran pemerintah dalam setiap suasana
yang dinamis. Perlu upaya penyegaran baik dari sudut penempatan aparatur dan
peningkatan kompotensi aparatur,
sehingga menjadi aparatur yang mampu memberikan pelayanan masyarakat, mampu
menyusun perencanaan yang demokratis, mampu melaksanakan program yang
konsisten dengan peraturan dengan diwarnai sikap
jujur dan mempunyai budaya
malu (malu berbuat salah, malu berkuasa terus menerus dan malu tidak
berbuat sesuatu apapun). Untuk
itu selain peningkatan kompetensi aparatur negara, juga diupayakan
kebersamaan persepsi dan sikap dalam memperbaiki struktur ekonomi yang
pincang dan tidak “tahan banting”. Langkah ini sangat relevan utamanya
dalam era otonomi sehingga masyarakat KUKM dapat merasakan kesamaan tindak
dari instansi pusat hingga ke daerah, serta antara executif dan legislatif.
Masing-masing instansi diharapkan mempunyai akuntablitas publik tentang
keberhasilan skenario terbaik yang akan dialami oleh dunia usaha KUKM. Satu
hal yang perlu dikoordinasikan
adalah pendekatan penentuan kriteria UKM
yang selama ini berbeda – beda oleh masing – masing instansi yakni
pendekatan jumlah tenaga kerja, pendekatan tingkat teknologi dan peningkatan
omzet usaha. 2.
Penataan
Kelembagaan 3.
Kebijakan
Permodalan Khusus KUKM. Perlu
dipertegas adanya kemungkinan penyediaan alokasi dana kredit bagi KUKM yang
lebih sesuai dengan paket kebutuhan usahanya. Untuk itu UU tentang Bank yang
mendorong alokasi kredit bagi KUKM, perlu diperjuangkan segera. Bantuan APBN
dan APBD dan sumber permodalan lainnya dikaitkan sebagai upaya mendukung
efisiency usaha dan rintisan
usaha KUKM. Sejalan dengan itu perlu dipikirkan lembaga-lembaga penjamin
lokal bagi KUKM. 4. Kebijakan Pelayan Perizinan. Dalam masa yang
lalu ada ratusan peraturan yang harus dipenuhi oleh KUKM, sehingga
kadang-kadang menjengkelkan bagi pengelola KUKM. Untuk itu perlu
dikembangkan fasilitas Unit Pelayanan Terpadu di beberapa daerah, sekaligus
deregulasi peraturan yang berkaitan dengan aktivitas-aktivitas usaha KUKM. 5.
Perkuatan
Manajemen KUKM. 6.
Bimbingan
Restruksisasi KUKM. 7.
Kebijakan Dalam
Produksi. Berkaitan
dengan era globalisasi yang menghendaki kepastian kualitas produk, maka
perlu ada langkah-langkah penerapan standardisasi produksi dan proses. Selain itu
didalam upaya peningkatan produksi maka pengembangan KUKM diarahkan pada
penggunaan bahan
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||