Pengangguran maupun ketidak-tersediaan lapangan kerja, bukanlah hanya menjadi agenda permasalahan bagi negara-negara berkembang saja,
tetapi telah menjadi agenda seluruh negara di dunia, dan telah menjadi permasalahan siapa saja. Pendapat (thesis) yang umumnya telah disepakati bahwa untuk menciptakan lapangan pekerjaan dapat dilakukan melalui
pertumbuhan ekonomi, khususnya melalui pertumbuhan usaha kecil dan menengah (UKM) di suatu negara. Thesis tersebut sekarang dianggap tidak memadai lagi karena dianggap masih belum berkesinambungan (sustainable). Oleh
karena itu para ahli memperbaiki thesis tersebut dengan menambahkan tentang perlunya untuk terus menumbuh kembangkan inovasi dan atau penemuan-penemuan baru; meningkatkan daya saing di pasar global; dan kerjasama
atau aliansi strategis antara usaha besar dengan UKM. Sinergi yang disebutkan terakhir inilah yang banyak diterapkan oleh banyak negara untuk menjadi dsar kebijakan dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan
daya saing ekonominya. Usaha besar di Eropa (tenaga
kerja >250 orang) hanya mampu menyerap tenaga kerja sepertiganya, selebihnya (2/3) diserap oleh UKM yang mempunyai tenaga kerja antara 10 – 250 (usaha kecil) dan yang dibawah 10 tenaga kerja yang mereka sebut
sebagai usaha mikro. Usaha kecil menyerap sepertiga dan usaha mikro menyerap sepertiga sisanya dari lapangan kerja yang tersedia. Pada saat ini mereka mulai menyadari akan kelemahan dan kekuatan mereka sendiri, dan
apabila mereka akan tetap bekerja sendiri maka akan memperlemah struktur industri maupun ekonominya. UKM mempunyai fleksibilitas dan kecepatan dalam menyesuaikan dengan perkembangan ide dan tuntutan pasar; dalam
menekan ongkos produksi, dan dalam memaksimumkan efisiensi. Sedang usaha besar mempunyai kekuatan, sumber daya, penguasaan teknologi, dan menembus pasar dunia. Apabila dua kekuatan itu bekerja sama, bermitra, maka
keunggulan kompetitif akan tercapai dan lapangan pekerjaan akan terbuka lebih luas, pertumbuhan usaha akan meningkat, profitabilitas akan naik, rencana investasi akan tumbuh, teknologi baru akan lebih berkembang,
transfer manajemen dan pengetahuanpun akan terjadi. Berdasarkan atas tuntutan
daya saing dan efisiensi maka usaha besar di Eropa yang bergabung dalam ERT melakukan upaya-uoaya kemitraan untuk menumbuhkan usaha kecil di Eropa sehingga lapangan kerja terbuka dan menumbuhkan ekonomi wilayah atau
daerah. ERT membagi kemitraan dalam (1)
Buying and Selling;yang meliputi kegiatan pengadaan (suplliers) dan subcontracting. (2)
Positive Restructuing; yang meliputi out-sourcing, spin-offs, management by-outs, community renewal, dan trade-offs. (3)
SME Support; atau di (4)
Training & Education; kegiatan dalam kategori ini termasuk pelatihan untuk pengadaan, magang, rekruitmen mahasiswa untuk menjadi wirausaha, dan
memperkenalkan kewirausahaan disekolah-sekolah. Tujuh perusahaan besar aktif dalam kegiatan ini. (5)
Local Focus; adalah kegiatan yang spesifik dengan maksud untuk mengembangkan ekonomi wilayah. Kegiatan ini antara lain mendirikan inkubator bisnis dan teknologi,
dan taman teknologi (teknological park). Empat perusahaan bergerak di bidang ini. Dalam melakukan kemitraan ini, usaha besar di Eropa yang tergabung dalam ERT, bukan karena adanya regulasi, bukan karena adanya
peraturan yang mengharuskan mereka berbuat demikian, juga bukan karena semangat belas kasihan atau charity, juga bukan karena adanya himbauan, bahkan mereka menganggap kalau kedua dasar itu dijadikan landasan, maka
kemitraan tidak akan membuahkan hasil yang memuaskan dan berkesinambungan. Mereka melakukan kemitraan atas dasar tuntutan pasar, atas dasar tanggungjawab bersama dalam MEE, agar tidak ada pengangguran, agar UKM
tumbuh, agar daya saing mereka tinggi dalam pasar dunia. Oleh karena itu timbul motivasi dalam diri setiap pengusaha bahwa kemitraan memang kebutuhannya. Mereka menyebut “self
motivation is the best driving force in conducting partnership for mutual benefit”. Setelah mereka melakukan kemitraan dalam bentuk yang mereka sebut sebagai tanggung jawab kepada masyarakat, mereka
publikasikan secara umum, bukan dilaporkan kepada pemerintah, dan mengharapkan dengan publikasi tersebut hal-hal yang baik dilakukan dapat oleh perusahaan-perusahaan lain yang tersebar di daratan eropa. Dengan
demikian maka kemitraan dapat bergulir, pembangunan wilayah dapat diperluas dan kesempatan berusaha tumbuh dengan baik. Hubungan bisnis antara usaha besar dengan UKM sudah terjadi timbal balik, artinya sudah terjadi saling ketergantungan. Mutu
produksi usaha besar tergantung kepada kualitas penyediaan dan pelayanan dari UKM. Usaha kecil telah banyak memasok kebutuhan komponen, bertindak sebagai agen perakitan, melakukan pengepakan, periklanan, transportasi
bahkan sampai kepada pengembangan produksi. Mereka bekerja sebagai mitra dan selalu bersama dalam pemecahan masalah dan saling menghargai nilai-nilai dari kontribusi masing-masing. Usaha besar dapat berkonsentrasi
kepada bisnis intinya sehingga standar kualitas dapat dipertinggi, serta biaya dapat diperkecil. Usaha besar dapat mengatur stocknya, dapat mengatur pengeluaran, dapat meningkatkan mutu melalui inovasi teknologi yang
diteruskan ke UKM. Ada subcontracting yang berkembang, yaitu; untuk jangka pendek karena permintaan yang meningkat, dan kapasitas terbatas pada usaha besar, maka mereka melakukan “capacity
subcontracting”. Sedangkan yang berjangka panjang, usaha besar dan UKM bersama-sama melakukan “product technical design dan development ” dan merencanakannya
sesuai dengan kebutuhan pasar. Subcontracting seperti ini disebut “specialized subcontracting”. Sebagai contoh; pabrik Siemen di
Jerman, mempunyai 80.000 pemasok, dimana 97% (sekitar 77.500) adalah berasal dari UKM dan sisanya sekitar 2500 berasal dari UKM dan sisanya sekitar 2500 berasal dari usaha besar lainnya. Volume pembelian oleh Siemen
kepada UKM di Jerman berjumlah 12,9 milyar DM per tahun, dan merupakan 70% dari total pengadaan Siemen di Jerman. Membangun suatu pabrik baru oleh usaha besar selalu berfalsafah sekaligus membuat dan mengembangkan perusahaan-perusahaan penunjang
untuk menjadi pemasok atau subkontraktornya. Misalnya sewaktu Siemen mendirikan pabrik microelectronic di Dresden dan combined cycle power plant sudah direncanakan sejak awal bahwa 60% dari pekerjaan yang ada berasal
dari UKM sebagai subkontraktornya. Hal seperti ini tentu lambat laun harus pula diterapkan oleh usaha besar di Pada kesempatan ini akan kami paparkan secara singkat masalah bantuan usaha besar dalam memacu tumbuhnya UKM pemula atau “start up
companies”. Ada bermacam-macam cara dilakukan untuk mengembangkan bisnis baru oleh usaha besar. Salah satunya yang dilakukan oleh Shell, Nederland, yaitu dengan
jalan memberi kesempatan kepada pegawainya untuk bekerja paruh waktu (part time) bagi mereka yang sedang memulai bisnisnya. Shell mendirikan Small Business Unit(SBU) dan memberikan modal awal (speed capital)
maksimum 125.000 gulden setiap usaha. Usaha yang dikembangkan biasanya sesuai dengan keahlian yang sudah ditekuni oleh pekerja yang bersangkutan. Mereka dibimbing dengan membuat perencanaan usaha (business plan) dan
mendapat konsultasi selama dua tahun. Shell menargetkan 1200 pegawainya akan menjadi pengusaha, sehingga Shell akan berhasil pula merampingkan pekerjanya tanpa harus melakukan pemutusan hubungan kerja. Dari
monitoring pengusaha yang telah ditumbuhkan, 90% dari mereka setelah British Steel Industry di Inggris, juga melakukan program penumbuhan bisnis pemula lewat “revolving low cost loan fund” dalam
bentuk paket permodalan dan pinjaman serta supervisi manajemen. Dana yang disediakan adalah 42 milyar pound atau rata-rata 2 milyar pound pertahun dengan pinjaman yang diberikan berkisar 10.000-150.000 pound per-orang.
Dari pengalaman mereka telah 2200 UKM mengambil program ini dan menciptakan pekerjaan untuk 58.000 orang. Kegagalan dari model pembiayaan ini adalah sekitar 20%, dan menurut mereka angka ini lebih rendah daripada
skim modal Renault dari Prancis, melakukan pembinaan penumbuhan usaha baru dari karyawan renault serta program “Cap Enteprende”, yaitu menyiapkan calon-calon pengusaha UKM untuk mengganti usaha kecil menengah yang pemiliknya sudah tua atau menjelang pensiun. Dibagian utara Prancis angka kematian UKM akibat tidak ada
regenerasi adalah 25 %, jadi menurut mereka apabila 1,5 juta UKM di Prancis tidak disiapkan regenerasinya maka 6,3 juta pekerjaan akan hilang. Menurut program ini
melanjutkan usaha yang sudah ada lebih mudah daripada membuat baru sama sekali. Renault untuk program ini menyediakan dana untuk kampanye, dan menyiapkan jaringan kerjanya sebesar 50.000 FRF (grant). Saint-Gobain, Prancis, melakukan program apa yang disebut “management mentoring” dan memusatkan program kemitraan di 400 lokasi di
pedesaan. Program ini disertai pula dengan pinjaman jangka panjang dengan bunga rendah. Perusahaan Total, Prancis ; 30 perusahaan besar Swedia yang bergabung dalam ABB; Shell dan Unilever, Shell, UK, dan Shell di Belanda, melakukan program khusus untuk menumbuhkan usaha
baru dari orang muda berumur 16-25 tahun. Sekitar $700.000 disediakan pertahun untuk program ini yang dimulai sejak tahun 1982. Sebanyak 70.000 anak muda telah menjalani program ini, dan diharapkan akan
menjadi pintu masuk atau “gateway” bagi anak muda yang akan berbisnis. Program ini juga memberikan “business start-up award”
bagi wirausaha muda yang sangat berprestasi. Saat ini | ||