PEMIKIRAN TENTANG ARAH KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PENGEMBANGAN USAHA KECIL DAN MENENGAH

 

Oleh :  DR. Ir. Sutrisno Iwantono

 

 

PENDAHULUAN

 

Pada tahun ke empat memasuki tahun kelima krisis ekonomi telah menyadarkan bangsa Indonesia bahwa pengelolaan ekonomi tidak boleh diserahkan sepenuhnya pada usaha-usaha skala besar. Strategi pembangunan ekonomi pada masa lalu yang mengutamakan pertumbuhan dan mengesmnpingkan pemerataan ternyata hanya menghasilkan sosok ekonomi yang rapuh yang segera ambruk dihempas badai krisis. Usaha-usaha besar yang begitu diagungkan pada masa itu ternyata tidak lebih dari kumpulan pencundang yang membebani rakyat. Ketika program rekapitalisasi dilakukan, mereka semua terbelit hutang dalam jumlah yang sulit dipahami untuk negara semiskin Indonesia. Akhirnya utang itu harus ditanggung oleh negara yang berarti menjadi beban rakyat banyak.

Ke depan kita dituntut untuk mampu mengembangkan cara yang sarna sekali berbeda, bukan semata-mata meningkatkan laju pembangunan, tetapi sekali lagi mengembangkan cara-cara yang berbeda dari sebelumnya. Mengembangkan suatu ekonomi yang secara struktur harus bertumpu pada daya dukung asli domestik berdasarkan kekuatan ekonomi rakyat.

Di kala ekonomi terpuruk sacara nasional, ternyata tidak berlaku seragam antar daerah. Beberapa daeah justru menikmati apresiasi dolar. Harga dolar yang melonjak membuka peluang baru terutama bagi daeah-daerah yang mampu menghasilkan produk untuk ekspor. Daerah ini pada umumnya memproduksi barang-barang dengan muatan lokal yang sangat tinggi, baik yang secara intensif memanfaatkan sumber daya alam dan atau yang secara intensif memanfaatkan dukungan upah buruh murah. Apresiasi dolar berarti pendapatan atau harga jual yang lebih tinggi dalam hitungan rupiah, sementara biaya produksi tidak berubah karena kandungan lokal yang tinggi tidak tergantung pada bahan baku impor sehingga tidak terpengaruh oleh apresiasi dolar. Secara neto berarti peningkatan laba. Melalui pengamatan lebih dalam diketahui bahwa usaha kecil dan menengah merupakan pelaku ekonomi yang merealisasikan pemikiran diatas ditempat yang secara langsung bersentuhan dengan rakyat banyak.

Namun demikian harus diakui bahwa keadaan seperti itu bukanlah gambaran yang menyeluruh. Jika hal itu terjadi dalam skala besar dan menyeluruh mungkin kita sudah keluar dari krisis ekonomi. Justru karena berbagai hambatan dan permasalahan baik dalam tatanan kebijaksanaan maupun dalam tataran implementasi lapangan masih memerlukan solusi komprehensif.

Di saat yang bersamaan kita harus memasuki fenomena ekonomi global yang kehadirannya memang tidak dapat dihindarkan. Globalisasi dicirikan oleh interaksi ekonomi yang bebas antar negara baik dalam bidang perdagangan maupun investasi. Tiap negara mengadopsi kebijakan dan langkah-langkah operasional baik secara bertahap maupun secara drastis untuk melonggarkan dan menghapuskan berbagai hambatan perdagangan dan investasi. Bagi usaha kecil dan menegah (UKM) globalisasi memang akan menciptakan berbagai kesempatan usaha dan peluang pasar, tetapi sekaligus juga menghadirkan tantangan dan ancman baru yang jauh lebih besar dibanding masa sebelumnya.

 

KECENDERUNGAN EKONOMI GLOBAL

 

Globalisasi telah melahirkan fenomena baru berbagai aspek kehidupan, diantaranya adalah dalam inovasi teknologi, pasar, biaya produksi, persaingan dan perilaku pemerintahan.

lnovasi teknologi membawa perubahan yang sangat dramatis dalam pengelolaan informasi dan komunikasi. Dunia menjadi begitu sempit sebagai akibat perkembangan sistem komunikasi dan menjadi begitu terbuka karena informasi tersedia dalam skala dan kecepatan yang tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Barang dan jasa tidak lagi memiliki definisi tunggal, dengan disain selalu berubah, dan product life cycle yang sangat pendek. Akibat inovasi teknologi ini pelaku ekonomi di berbagai negara termasuk UKM berloma-lomba mengembangkan apa yang dikenal dengan new knowledge based economy.

Perubahan-perubahan dalam aspek pasar dalam ekonomi global antara lain di tandai oleh pertumbuhan pendapatan per-kapita di berbagai negara khususnya di negara-negara emerging economies, konvegensi gaya hidup (life style) dalam pergaulan masyarakat dunia, peningkatan arus wisatawan yang menciptakan pelanggan global (global customer), munculkan pasar-pasar institusi yang berperilaku sebagai pelanggan global, tumbuhnya global brand name dimana proses produksi terdistribusi di berbagai negara (seperti merk-merk terkenal versace, coca cola, nino cerruti dll), serta kampanye iklan global.

Dalam aspek biaya yang menonjol adalah upaya yang sangat konsisten untuk menemukan cara-cara baru dalam berproduksi yang bermuara pada penurunan biaya. Dilakukan bukan saja melalui cara-cara seperti penggunaan kapasitas penuh, pemanfaatan skala ekonomi, multyplan operation, tetapi juga melalui akselerasi teknologi, percepatan komunikasi dan redistribusi proses produksi yang disebar ke berbagai negara yang menawarkan keunggulan biaya tenaga kerja murah.

Globalisasi juga memaksa pemerintah di berbagai negara untuk mengadopsi dari merubah perilaku mereka menjadi misalnya secara ekonomi lebih terbuka selaras dengan disiplin WTO (World Trade Organization), konsisten melakukan deregulasi dan debirokratisasi, membentuk kawasan perdagangan bebas, upaya yang agresif dalam berbagai kebijaksanaan industrialisasi, mengurangi peran ekonomi pemerintah baik sebagai komsumen maupun sebagai produsen, serta menjalankan program privatisasi atas perusahaan- perusahaan milik negara.

Globalisasi telah memperketat kompetisi pasar yang ditandai dengan pertumbuhan yang sangat pesat dalam perdagangan global khususnya di kawasan Asia Pasifik, hadirnya pelaku ekonomi baru dengan daya saing tinggi, masuknya pelaku aging sebagai pemilik perusahaan di berbagai negara, jaringan global yang telah membangun hubungan antar industri yang sangat kuat (industrial inter-linkage), kesadaran yang semakin tinggi untuk melindungi hak-hak kekayaan intekektual, dan hubungan kemitraan strategis dalam skala kawasan maupun skala duma (global strategic aliances).

Kecenderungan global yang diikuti dengan berbagai perubahan dalam nilai, sifat dan praktek ekonomi bukan saja oleh pelaku ekonomi tetapi juga oleh negara dan pemerintahan tentu membawa implikasi yang luas bagi UKM.

UKM tidak lagi bisa dipahami sebagai sektor pinggiran yang keberadaaanya boleh diabaikan. UKM adalah pelaku ekonomi yang secara nyata berperan strategis dalam ekonomi yang karena itu harus dikelola dan dikembangkan secara pro aktif mengikuti perubahan-perubahan dalam tata ekonomi global.

UKM harus dikembangkan menjadi pelaku bisnis yang memiliki daya saing tinggi. Daya saing tersebut dibangun secara konsisten bersumber dari inovasi teknologi dan perbaikan produktifitas. Karena itu pemanfaatan teknologi secara optimum mulai dari teknologi yang paling sederhana hingga teknologi yang mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah tinggi.

UKM