Makalah Pengantar Diskusi

Penyusunan Strategi Pemberdayaan

Ekonomi Rakyat;

Jakarta, 19 September 2001.

 

 

 

 

PENYUSUNAN STRATEGI PEMBERDAYAAN

EKONOMI RAKYAT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh

 

Wagiono Ismangil

I Wayan Dipta

 

 

 

 

 

Pengantar

 

Pemberdayaan ekonomi rakyat sudah sejak lama kita usahakan. Namun hasilnya sama kita ketahui masih belum memuaskan.  Malahan dalam beberapa hal ditanggapi dengan kekerasan karena frustasi menghadapi permasalahan yang tak kunjung usai, dan iri hati karena ada golongan yang berhasil dengan mencolok.

 

Para penulis tidak ingin memberi kesan bahwa dengan strategi tertentu permasalahan pengembangan ekonomi rakyat akan segera dapat diatasi.  Para penulis terlibat sendiri dalam beberapa proyek dimasa lalu.  Mungkin dengan pengalaman yang telah dilalui tadi kami ingin menyumbangkan  suatu pendekatan menggunakan suatu prioritas pada sector kelompok tertentu, yaitu kecil mendekati menengah dan menengah agar sumber daya dapat dioptimalkan dengan baik.

 

Juga kompetensi kemampuan dikhususkan kepada kemampuan untuk berhubungan dengan perdagangan keluar negeri. Dalam kompetensi perdagangan luar negeri ini terdapat berbagai persyaratan yang harus dikembangkan dan sekaligus menanggapi  tantangan perdagangan bebas yang akan menjadi ciri perdagangan dimasa depan.

 

Sebagai landasan dari pengembangan kompetensi usaha dengan hubungan ke luar negeri tersebut di kembangkan kemampuan berusaha dalam jaringan, baik dengan sesama pengusaha di dalam negeri maupun dengan pengusaha di luar negeri.

 

 

 

 

Permasalahan yang Kita Hadapi

 

Statistik jumlah Badan Usaha  berdasar angka BPS 1999 dan 2000 menunjukkan dengan mencolok perbandingan antara pengusaha kecil, menengah dan besar masih sangat memprihatinkan – perimbangan antara badan usaha kecil, menengah dan besar masih berat sebelah ke pengusaha kecil. Untuk 1999 angkanya adalah 37.8 juta dari 37. 85 juta adalah pengusaha kecil.  Kalau pola tahun 94-/95 diikuti maka sebagian yang sangat besar (98- 99%) dari pengusaha kecil ini adalah pengusaha mikro – dalam taraf informal, dengan omset 50 juta kebawah. 

 

Ranking competitiveness Indonesia makin terpuruk dan menurut the World Competitiveness Yearbook (IMD Lausanne, 2001) yang menganalisis daya saing dengan menggunakan 286 buah komponen statistik yang dikelompokkan dalam empat faktor masukan, yaitu: Kinerja Ekonomi, Efisiensi Pemerintah, Efisiensi Bisnis, dan Infrastruktur dari 49 negara maju dan berkembang, posisi Indonesia ada pada posisi paling bawah. Pada tahun 2000, posisi Indonesia ada pada urutan ke 44. Jadi daya saing Indonesia telah melorot 5 tingkat dari tahun lalu. Ranking rendah ini terutama kita dapatkan dalam tahun sesudah krisis ini.  Teman dalam ranking itu hanya negara negara Afrika hitam yang belum berkembang.

 

Apa yang sudah dilaksanakan pada masa lalu

 

Secara jujur harus kita akui bahwa strategi pengembangan pada masa lalu sudah pernah dirumuskan dan permasalahan ini sudah dilalui cukup lama pada masa orde baru dulu, dengan hasil yang kurang memuaskan.  Kalau kita lihat apa yang telah dilakukan pada masa lalu saya melihat secara sederhana :

 

(1)Ada kecenderungan membatasi pada pendanaan, kredit dan semacamnya. Dan kurang pada pembinaan kemampuan/kompetensi yang akan mengarahkan berbagai sumber daya kepada keberhasilan. Apalagi efektivitas penyaluran kredit kurang dikendalikan.  Lapangan dimana UKM berkiprah masih “informal” dan belum banyak dapat diterapkan pendekatan formal legal tanpa memberikan komplikasi pada penyaluran kredit tersebut.  Pendanaan jelas penting tetapi dalam kondisi motivasi bersifat nrabas dan kemampuan sumber daya terbatas, orientasi dana ini menjadi sumber permasalahan karena tujuan yang hendak dicapai menjadi berantakan.

(2)Terutama dalam hal koperasi kita lihat masalah kelembagaan menjadi dipentingkan.  Pada masa itu lembaga ini menjadi landasan dari pemberian fasilitas sehingga serta merta bermunculan berbagai lembaga dan ormas yang mngatas namakan UKM untuk mendapatkan fasilitas tersebut.

(3)Struktur kelembagaan yang di bebani tanggung hawab membina ini sebagian besar ditimpakan kepada pemerintah.  Dan dalam konstelasi masa lalu  pengendalian dari pengembangan UKM ini terpecah dalam berbagai badan yang koordinasinya kurang jelas.

 

 

Perlunya FOKUS

 

Melihat hal ini maka makalah ini menyarankan agar pendekatan pengembangan UKM dilakukan dengan pola FOKUS dan PRIORITAS, agar sumber daya yang terbatas dapat menghasilkan secara optimal.   Dalam kaitan ini mungkin ada baiknya dipisahkan antara usaha mikro dengan usaha kecil dan menengah. Untuk usaha mikro pendekatan pembinaannya adalah welfare approach yang bobotnya lebih pada pendekatan sosial. Sedangkan usaha kecil dan menengah diberdayakan dengan business approach. Untuk itu, ada beberapa sasaran focus yang dapat di lakukan :

(1)Fokus dalam sector.  – Kalau kita lihat sector sector dominan dalam UKM maka kita perlu bedakan antara sector pertanian dan non-pertanian.  Sektor pertanian membutuhkan penanganan tertentu  yang berbeda dengan sector non-pertanian. 

(2)Dari pantauan yang kami lakukan maka disini juga perlu dipilih  kelompok UKM yang kiranya dapat menjadi penghela bagi yang lain.  Kami fokuskan pada UKM kecil/menengah yang mempunyai potensi ekspor.

(3)Dari focus ini maka kami menyarankan agar pembinaan diarahkan kepada pembinaan kompetensi – melalui mekanisme ekspor.  Kami melihat ini menjadi penting karena dengan segera kita dapat menumbuhkan berbagai kompetensi sekaligus dan terarah kepada persayaratan usaha yang mantap dalam era pasar bebas.

 

Dalam kerangka pemikiran tersebut, ada beberapa model ekonomi rakyat, baik yang sudah ada maupun belum yang dapat dikembangkan, antara lain: (a) industri di desa, yaitu industri yang mengambil lokasi di desa untuk mengatasi masalah urbanisasi, antara lain industri sepatu, garment, dan cangkul (b) industri pedesaan, yaitu industri yang mengolah produk-produk pedesaan antara lain singkong untuk gaplek; kayu sengon untuk vineer, papan laminasi, dan kusen pintu;  industri kopi; the dan lainnya, (c) integrated atau mixed farming, yaitu pertanian terpadu yang antara lain meliputi ternak ayam, kambing/domba dan sapi, kolam ikan dikombinasikan dengan tanaman padi, jagung, dan sayur mayur lainnya untuk menghasilkan organic farming, (d) pola PIR, seperti model kelapa sawit, tebu, dan lainnya, (e) cluster industry, seperti untuk perak di Kota Gede, Yogyakarta, Celuk di Gianyar, Bali, sepatu di Cibaduyut dan Sidoharjo, dan lainnya, (f) inkubator bisnis dan teknologi yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghasilkan pengusaha-pengusaha yang tangguh.

 

Namun yang menjadi masalah selama ini adalah dukungan pendanaan, informasi pasar, dan teknologi. Sebagai contoh, ada beberapa produk Indonesia yang punya peluang pasar bagus di luar negeri, seperti gaplek, sabut kelapa, tempurung kelapa, furnitur dan beberapa produk UKM lainnya, selama ini sering tidak mampu memenuhi permintaan pasar karena keterbatasan modal baik untuk investasi maupun kerja. Oleh karena itu dukungan pihak perbankan nasional dan lembaga penjaminan kredit menjadi sangat strategis dalam hal ini.

 

Pada sisi lain, untuk meningkatkan kemampuan UKM dari hal hal diatas dapat secara konkret kita sarankan untuk memfokuskan kepada   KOMPETENSI SDM.  Hal ini menjadi penting kalau kita lihat bahwa dalam pengembangan kewirausahaan yang menjadi dasar kompetensi SDM dalam usaha ini adalah peran serta aktif dari para pengusaha sendiri.  Dengan demikian maka kita membina kemampuan untuk berkembang sendiri pada pengusaha kita.  Pengusaha pada level ini bisasany sudah memiliki motivasi dan dasar pengetahuan cukup untuk menumbuhkan kemampuannya. 

 

Sasaran ini menjadi penting karena pada masa ini dan khususnya menjelang AFTA dan APEC maka orientasi keterbukaan dan mekanisme pasar bersama sama akan menempatkan kemampuan  menghasilkan unggulan  -- menjadi kompetitif, menjadi dasar keberhasilan.

 

Mengapa Kompetensi SDM?

 

Untuk ini maka semua upaya pengembangan perlu di fokuskan kepada Kompetensi – bagaimana kita menumbuhkan kemampuan dan  sikap yang perlu ditumbuhkan untuk keberhasilan. 

 

Mengingat statistik yang kita sampaikan diatas maka saya usulkan untuk memfokuskan upaya kepada kelompok kecil/menengah yang sudah dalam lingkungan ini agar dapat memperkuat kemampuan mereka. Mengeluarkan kelompok usaha rakyat dilingkungan pertanian dan mengkhususkan dalam usaha non-pertanian sebagai sasaran pembinaan yang dengan sadar dipilih.

 

Tidak berarti usaha kecil kebawah tidak penting – Usaha kecil mikro seperti juga usaha pertanian perlu ditangani secara khusus. Dalam pemberdayaan ekonomi rakyat kita memerlukan mesin pengembangan yang harus ada dalam dunia usaha itu sendiri.  Kita memerlukan suatu focus –  yang kemudian dapat menjadi penghela dari sector yang lain – yang sebagian besar masuk lingkungan mikro yang usahanya seringkali  seadanya – tidak dapat berinisiatif untuk menetapkan strategi apa yang hendak dikembangkan untuk mencapai hasil yang di citakan.

 

Penentu keberhasilan kini dan dimasa depan adalah pengetahuan – apapun produksi kita muatan pengetahuan dan informasi akan makin besar dan menentukan. Lingkungan usaha pada waktu ini dan masa depan akan cenderung kearah mekanisme pasar. 

 

Cara berfikir yang terbatas pada suatu negara dan kekuaasaan pabean tertentu sudah tidak dapat lagi dilakukan.  Analoginya juga tidak dapat kita membatasi suatu pertimbangan usaha pada suatu daerah tertentu saja.  Orang desa sudah akan bisa memesan melalui internet produk apapun didunia dan persaingan tidak dapat di lihat lagi dari suatu daerah tertentu, dan melarang perdagangan besar masuk kesuatu daerah, karena persaingan sudah sangat terbuka dan teknologi sudah menembus berbagai batas daerah tertentu. Implikasi dari hal ini adalah persaingan menjadi dekat sekali dan penentu keberhasilan adalah apakah kita dapat memberikan yang unggul. 

 

Kondisi ini harus menjadi fokus dari  pengembangan UKM karena antara UKM sendiri yang menentukan adalah keunggulan ini, lihat saja usaha oleh oleh yang ada disetiap kota, usaha restoran dan makanan kecil sampai kerajinan dan pembuatan komponen.

 

Dari segi konsumen, konsumen sekarang dibanjiri informasi mengenai produk dan jasa dengan kualitas yang bersaing sedunia (world class) dan kalau kita ingin ikut bicara maka haruslah produk dan jasa yang kita hasilkan adalah produk unggulan.

 

Pengembangan KOMPETENSI  SDM

 

Dengan pengembangan kompetensi dimaksudkan berbagai kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pengelola UKM agar dapat mengembangkan usaha dalam lingkungan yang terbuka.   Secara umum ada dua kelompok kompetensi yang dapat di kemukakan.  Pertama adalah kompetensi yang mudah tampak, seperti ketrampilan usaha dan kemampuan mengelola keuangan, pemasaran serta produksi barang dan jasa.

Kedua dapat dikelompokan berbagai kemampuan yang lebih mengarah kepada kewirausahaan dan berbagai sikap yang diperlukan untuk seorang pengusaha.

 

Pendekatan pengembangan yang perlu diambil tentu lebih bersifat komprehensif dimana berbagai pengembangan melalui pelatihan dipadukan dengan pengembangan yang bersifat pengalaman (experiential approach) dan lingkungan serta infra struktur yang mendukung.

 

KOMPETENSI untuk Perdagangan Luar Negeri

 

Kalau hendak di benchmark kompetensi apa yang hendak difokuskan -- Fokus yang lebih dalam lagi :KOMPETENSI – entrepreneurship untuk ekspor – benchmark : kemampuan ekspor.  Kemampuan ini memacu kesiapan kita untuk menghadapi berbagai perkembangan masa datang.  Pasar akan lebih terbuka dan pengusaha kita sudah harus membiasakan diri dengan hubungan, kualitas maupun persyaratan yang lebih tajam dari berbagai usaha berorientasi ekspor.

 

Bagian yang penting dari Kompetensi Perdagangan LN ini adalah kemampuan pengusaha untuk mengembangkan jaringan usaha (networking) baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

 

Berbagai infrastruktur Pengembangan

 

Sudah tentu iklim dan lingkungan usaha yang dihadapi pengusaha perlu dijinakkan.  Iklim usaha yang tercermin dalam berbagai peraturan dan kebijaksanaan pemerintah perlu juga mendukung dengan kuat dan keberpihakan berbagai peraturan kepada pengembangan usaha ini perlu disadari semua pembuat keputusan dilingkungan pemerintah maupun pengusaha.

 

Berbagai hal dibawah ini merupakan contoh dari berbagai upaya tersebut :

 

1.    Pengembangan Sentra Pendukung UKM : dimana dikembangkan berbagai pusat informasi yang dibutuhkan UKM.

2.    Badan Konsultansi  UKM yang menyediakan jasa dengan perencanaan bisnis, keuangan, marketing, accounting,  keahlian dalam teknologi dan inovasi yang bermanfaat bagi UKM.

3.    Dukungan pendanaan : ini sudah banyak dilakukan dimasa  lalu, Lembaga guarantee Funds, Lembaga  Modal Penyertaan, dsbnya

4.    Business Premises and Infrastructure : Sudah pernah dicoba dan perlu dikembangkan lebih jauh, seperti incubator teknologi, Inkubator Usaha, Technological Parks dsbnya.

5.    Penting didukung upaya mengembangkan kerjasama yang terus menerus di dorong dalam kerjasama usaha, baik didalam negeri maupun di luar negeri.  

6.    Memanfaatkan berbagai badan internasional (CIDA, JETRO, dsbnya) dan regional (APEC, AFTA dsbnya) sebagai sumber informasi, pertemuan ilmiah, dan menyebarkan komitmen bagi pemerintah maupun dunia usaha.

 

 

Kesatuan system Pengembangan baik ini dari pemerintah maupun dalam koordinasi dengan pihak non- pemerintah, seperti Kadin dan Dekopin, perlu ditata dengan baik sehingga koordinasi dan focus pembinaan menjadi jelas.

 

Networking dengan luar negeri – baik dengan kerjasama usaha maupun dengan badan pembinaan yang regional – misalnya APEC center for SME Development atau dalam kerangka G-15 Indonesia menjadi koordinator untuk pengembangan Center for Development of SMEs (CD-SMEs). Pengembangan jaringan usaha atau business networks menjadi kunci penting dalam rangka (1) economies of scope, (2) economies of scale, (3) generate management economies, dan (4) peningkatan bargaining power dan membantu peningkatan akses pasar. Melalui pengembangan jaringan bisnis ini diharapkan akan terjadi peningkatan daya saing UKM.

 

Penutup

 

Berpijak dari uraian di atas, berikut ini dapat disampaikan point-point penting yang dapat dipetik dari tulisan ini, yaitu:

1.                Perlunya focus dan prioritas di dalam pemberdayaan ekonomi rakyat (baca UKM) karena adanya keterbatasan sumberdaya.

2.                Masalah kompetensi juga perlu menjadi perhatian, terutama peningkatan kualitas SDM dan akses perdagangan luar negeri (ekspor).

3.                Masalah iklim berusaha yang kondusif dan infrastruktur untuk pengembangan UKM masih perlu ditata kembali, terlebih lagi menghadapi era otonomisasi yang mengindikasikan justru akan menghambat tumbuhnya UKM.

4.                Guna meningkatkan daya saing UKM, pengembangan business networks akan sangat penting terutama melalui e-business networks.