|
Peranan Ekonomi UKM 2006 |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
PENDAHULUAN |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
1.1. Latar Belakang
Perkembangan usaha kecil dan menengah (UKM) mendapat perhatian yang serius dari berbagai kalangan baik pemerintah ataupun masyarakat umum, hal ini tidak terlepas dari peran UKM dalam penyerapan tenaga kerja dan ketahanan UKM terhadap berbagai gejolak, seperti krisis ekonomi tahun 1997 yang lalu. Selain itu UKM juga berperan sebagai salah satu sumber penting bagi pertumbuhan ekonomi dan ekspor non migas yang secara langsung turut menciptakan peningkatan pendapatan masyarakat sekitarnya.
Secara mikro ekonomi UKM keberadaannya sangat berfluktuatif, hal ini dapat terjadi karena pergeseran sektor usaha guna mengikuti pangsa pasar yang ada atau karena memiliki struktur permodalan yang belum mapan, maka “tumbuh” dan “mati” nya UMK ini seringkali sangat sukar terdeteksi, akan tetapi secara makro ekonomi perkembangan UKM selalu menunjukkan peningkatan. Dilihat dari perannya terhadap PDRB ternyata UKM juga terus menunjukkan penguatan.
Dengan gambaran empiris tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat “menangkap” keberadaan UKM sebagai suatu kekuatan ekonomi yang patut dibina dan dikembangkan dalam kerangka pembangunan ekonomi Jawa Barat. Melalui berbagai program akselerasi untuk mencapai IPM 80 Jawa Barat, UKM menjadi salah satu target strategi pembangunan yang mendapat prioritas.
Dengan berbagai keterbatasan yang berada dalam skala UKM, dimana salah satunya adalah keterbatasan pangsa pasar maka strategi pengembangan UKM ini perlu dicermati dengan seksama agar pertumbuhan UKM baru tidak “melemahkan” atau bahkan “membinasakan” yang telah ada. Oleh karena itu sebaiknya pembentukan UKM lebih diarahkan untuk pangsa ekspor atau memenuhi kekurangan permintaan dalam wilayah.
Rendahnya pendidikan SDM pelaku UKM juga menjadi keterbatasan yang perlu mendapat pembinaan yang serius dari pemerintah. Keberadaan UKM yang berada pada semua lapangan usaha dan tersebar di semua lokasi memang menjadi kendala yang sangat menyulitkan dalam melakukan pembinaan, oleh karena itu Pemerintah Jawa Barat berupaya mengembangkan sentra-sentra UKM untuk memudahkan pembinaan dengan melihat kelompok komunitas UKM yang ada atau membentuk komunitas UMK baru.
Berdasarkan catatan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM), di Jawa Barat terdapat 142 sentra UKm baik yang aktif maupun tidak aktif, yang sebagian besar bergerak dalam agribisnis dan industri kerajinan rumah tangga. Inilah yang sementara menjadi target pembinaan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Dengan berbagai program akselerasi pembangunan di Jawa Barat, tampaknya akan makin banyak terbentuk komunitas UKM baru yang kedepannya dapat menjadi sentra UKM binaan.
Mengapa usaha kecil perlu dikembangkan ?
Pertama, Usaha Kecil menyerap banyak tenaga kerja, dimana estimasi Tenaga Kerja yang terserap Usaha Kecil-Menengah sampai tahun 2006 adalah 11 juta orang atau 90 persen dari seluruh angkatan kerja. Dengan adanya perkembangan usaha kecil menengah akan menimbulkan dampak positif terhadap peningkatan jumlah tenaga kerja dan pengurangan jumlah kemiskinan. Dengan modal yang sedikit bisa membangun usaha kecil, teknologi yang digunakan sangat sederhana sehingga bersifat padat karya, yang memerlukan banyak tenaga kerja.
Kedua, Pemerataan dalam distribusi pembangunan. Lokasi UKM banyak di pedesaan dan menggunakan sumber daya alam lokal.Dengan berkembangnya UKM maka terjadi pemerataan dalam distribusi pendapatan dan juga pemerataan pembangunan, sehingga akan mengurangi diskriminasi spasial antara kota dan desa. Kesenjangan pembangunan antara kota dan desa menyebabkan terjadinya urbanisasi besar-besaran. Akibatnya, masyarakat desa mencari pekerjaan di kota walaupun ada sumber daya alam yang baik di desa. Dengan nilai tambah sector pertanian dan kurangnya kebijakan yang bisa membuat sektor pertanian berkembang, mengakibatkan generasi muda tidak mau lagi bekerja di sektor ini. Ketiga, Pemerataan dalam distribusi pendapatan. UKM sangat kompetitif dengan pola pasar hamper sempurna, tidak ada monopoli dan mudah dimasuki (barrier to entry). Pengembangan UKM yang melibatkan banyak tenaga kerja pada akhirnya akan mempertinggi daya beli. Hal ini terjadi karena pengangguran berkurang dan adanya pemerataan pendapatan yang pada gilirannya akan mengentaskan kemiskinan. Tantangan dan Masalah UKM
Masalah yang dihadapi UKM selama ini menurut hasil kajian BPS Jawa Barat dengan Dinas KUKM adalah:
Strategi Pemberdayaan UKM Kluster secara umum di definisikan sebagai konsentrasi geografis dari subsektor-subsektor manufaktur yang sama (Kuncoro, 2007). Menurut Porter (1998), peta ekonomi dunia saat ini didominasi oleh kluster, yaitu konsentrasi geografis mencakup susunan industri yang berkaitan dalam suatu bidang tertentu. Menurut teori Marshall, kluster industri muncul karena perusahaan-perusahaan yang ada dalam suatu industri menemukan segala keuntungan yang bisa mereka dapatkan bila mereka mengelompok. Kemitraan
Jalinan kemitraan harus didasarkan pada prinsip sinergi, yaitu saling membutuhkan dan saling membantu. Pola kemitraan yang tidak saling membutuhkan, bidang usaha bapak angkat sama sekali berbeda dan tidak ada kaitan hulu hilir dengan usaha kecil menyebabkan keterkaitan ini tidak bertahan lama.
Pola kemitraan harus disesuaikan dengan potensi dan karakteristik daerah bahkan kemitraan pada setiap bidang usaha juga memiliki karakteristik yang khusus. Di setiap bidang usaha pada setiap daerah mempunyai budaya bisnis sendiri. Oleh karena itu diperlukan kajian sederhana dalam mengembangkan kemitraan supaya bisa berjalan langgeng.
Pembangunan UKM di Jawa Barat telah dirancang dan dituangkan dalam salah satu misi pada rencana strategis pembangunan Jawa Barat tahun 2003-2008. Pada misi mengembangkan struktur perekonomian regional yang tangguh secara eksplisit ditegaskan bahwa pembangunan ekonomi daerah dititikberatkan pada usaha kecil menengah. Oleh kaerna itu berbagai program telah dilakukan pemerintah daerah untuk pemberdayaan UKM. Banyak indikator terukur yang dapat menilai UKM lebih berdaya dari periode sebelumnya. Peningkatan penciptaan nilai tambah dari rata-rata per unit UKM. Peningkatan dan percepatan produktivitas setiap unit UKM. Peningkatan produktivitas tenaga kerja UKM serta pertumbuhan riil UKM dibandingkan pertumbuhan ekonomi wilayah. Semua indikator ini akan di ulas pada publikasi ini, berdasarkan Survey Khusus UKM dan data BPS lainnya serta data dari Dinas. 1.1. Maksud dan Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk menghitung Peranan Usaha Kecil dan Menengah terhadap perekonomian Regional Jawa Barat tahun 2006. Disamping itu, dihitung pula peranan UKM Kabupaten/Kota di Jawa Barat tahun 2006. Kegiatan yang dicakup dalam penelitian ini adalah:
1.2. Alokasi Sampel Untuk memperoleh gambaran atau rasio struktur input dan profil UKM, maka dilakukan pencacahan secara sampel dengan jumlah sebanyak 600 responden usaha kecil dan menengah di Jawa Barat, dengan sebaran sebagai berikut:
Penentuan alokasi sampel ke masing-masing sektor dilakukan secara proporsional, yaitu berdasarkan jumlah unit usaha.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||