|
Stereotipe lembaga koperasi
masih berkumandang di
berbagai kalangan.
Tudingannya pun sungguh
tidak mengenakkan karena
Koperasi dinilai sebagai
lembaga ekonomi yang hampir
gagal, tidak efisien dan
tidak bisa bersaing. Bahkan
sebagai sarang Kolusi,
Korupsi dan Nepotisme (KKN).
Semua cemoohan tersebut
kadang dapat membikin hati
panas kalangan insan yang
serius membangun koperasi.
Hujatan yang tidak
menyenangkan itu agaknya
dapat dimaklumi, karena
sejarah perkoperasian kita
sarat dengan perjalanan
traumatik dari sebuah impian
tentang kesejahteraan
ekonomi rakyat.
Di masa penjajahan, sosok
koperasi berperan sebagai
alat kekuasaan yang menekan
rakyat. Pada jaman
pendudukan Jepang, koperasi
dimanfaatkan oleh Pemerintah
Jepang untuk membantu
distribusi logistik, tetapi
juga untuk memungut pajak
dengan cara paksa yang
terkadang perlakuannya tidak
manusiawi. Sehingga
menimbulkan antipati
masyarakat terhadap koperasi.
Suasana traumatik terhadap
koperasi masih melekat
hingga jaman kemerdekaan,
sehingga saat itu kampanye
terhadap pembangunan ekonomi
rakyat melalui koperasi
terasa sangat berat "bagaikan
menjual kue yang telah basi". |